30 October 2009


Seorang anak berusia tiga tahun suatu waktu menjatuhkan gelas kaca yang tengah di pegangnya, kontan gelas jatuh dan pecah. Si anak terdiam kaget, telah terbayang bagaimana ibunya akan memarahinya karena tak dapat memegang gelas tersebut dengan baik. Namun apa yang terjadi? Alih-alih memarahinya sang ibu hanya menghampiri dan berkata “Gelasnya pecah ya…? Ga papa, nanti kita beli gelas baru lagi, ade kan masih belajar pegang gelas ya…”
                Ya, mungkin kita akan berpikir betapa bijak sang ibu menghadapi anaknya. Ia tidak menempatkan standar dirinya yang berusia 30 tahun pada anaknya yang hanya berusia 3 tahun. Bagi usianya yang dewasa, memegang gelas dengan tanpa menjatuhkannya adalah hal yang tak sulit untuk dilakukan. Jelas begitu adanya, karena selama 30 tahun ibu tersebut telah berkali-kali memegang gelas, tangannya pun tentu telah lebih mantap ketika menggenggamnya walaupun hanya dengan satu tangan. Berbeda dengan anaknya yang hanya berumur 3 tahun, gelas harus dipegang oleh kedua tangan mungilnya, tentunya akan lebih tinggi resiko untuk menjatuhkannya.
                Banyak dari kita yang seringkali menghadapi situasi tersebut, entah dengan teman, saudara ataupun rekan kerja. Namun terkadang kita tak berlaku adil dengan menyikapi hal tersebut secara emosional. Mengapa tak adil? Tak adil jika kita tak memberinya kesempatan untuk belajar. Selayaknya anak berumur 3 tahun tadi, mungkin orang yang sedang kita hadapi hanyalah seorang anak kecil berumur 3 tahun sedangkan kita adalah orang dewasa berumur 30 tahun.
                Seorang rekan pernah mengingatkan saya “Jika ingin bijak dalam menyikapi sesuatu, maka jangan ‘memaksakan’ standar diri kita pada orang lain”. Dan hingga saat ini jika berhadapan dengan hal yang tidak saya suka pada orang lain, saya selalu belajar memahami. Karena mungkin orang yang saya hadapi hanya seorang anak berumur 3 tahun.

Tagged:

0 comments:

Post a Comment