10 October 2009


                Kejadian ini terjadi sekitar setahun yang lalu. Pagi itu sibuk sekali, seperti biasa saya mempersiapkan berbagai macam keperluan untuk segera berangkat kuliah. Kuliah pagi di awal minggu, tentu harus berangkat lebih awal mengingat kemacetan sudahpun pasti jika sedikit saja terlambat pergi. Suasana di rumah terasa lebih semarak dengan kehadiran dua orang keponakan yang kebetulan sedang menghabiskan masa libur semester. Faiz (5 tahun) dan kakaknya Ghazy (9 tahun) selalu menginap di rumah saya jika ada kesempatan.
                Pagi yang sibuk ditambah harus menyelesaikan tugas belum rampung dikerjakan sejak semalam, cukup memicu adrenaline. Keinginan untuk tak terlambat masuk kuliah dan keinginan menyelesaikan tugas dengan maksimal berkejaran untuk dipenuhi. Tiba-tiba si bungsu keponakan saya menghampiri dan berkata “ Ma’chi (Panggilan bibi) kalo udah kerjanya, ade mau main game ya…” faiz dan ghazy selayaknya kebanyakan anak lainnya tentu senang bermain game, terutama game house dengan beragam pilihan yang dapat dimainkan. Saya mengangguk saja sekenanya, karena masih terfokus pada layar laptop yang menampilkan tugas yang belum juga rampung. Lalu kembalilah si bungsu pada kakaknya yang tengah berada di meja makan untuk sarapan pagi.
                Tugas selesai, saya pun bergegas mandi dan mempersiapkan diri. Selepas itu saya bersiap pergi dan memasukkan semua barang yang saya perlukan termasuk laptop untuk dibawa serta di dalam ransel yang senantiasa menemani. Alangkah terkejutnya saya ketika tiba-tiba Faiz kembali menghampiri saya sambil berteriak “Ma’chi nakal!!!”. Saya terkejut dan berpikir tentang apa yang telah saya lakukan sehingga membuatnya marah. Lalu saya pun menghampiri faiz yang masih meraung-raung dalam tangisannya. Saya bertanya “ade kenapa?...”
Dengan sambil menangis Faiz menjawab “kan..tadi ma’chi janji, kalo dah selese ade boleh maen game…tapi laptopnya sekarang dibawa…hu..hu..”  
Faiz terus saja menangis dan saya termenung, saya ingat bahwa tadi menganggukkan kepala sebagai tanda setuju sebagai tanda bahwa dia boleh main setelah saya menyelesaikan tugas, tapi saya tidak mengira bahwa anggukan tersebut merupakan kontrak yang betul-betul kuat bagi seorang anak berusia 5 tahun. Saya diam termenung,betapa saya sudah menganggap sepele hal yang bagi orang lain besar, betapa saya tidak dapat menepati janji terhadap anak berusia 5 tahun, betapa saya terlalu ego dengan hanya memikirkan tugas saya dan tidak memikirkan hak orang lain (faiz) padahal saya telah menjanjikannya.
                Akhirnya Faiz diurusi oleh neneknya (mama saya) yang membujuknya agar berhenti menangis. Namun saya masih saja termenung, betapa saya yang mengklaim diri dewasa masih harus banyak belajar dari seorang Faiz yang berusia 5 tahun untuk mengerti bahwa janji tetaplah janji yang harus ditepati. Saya akhirnya menghampiri faiz, memandangi wajah mungilnya yang masih sembab, lalu saya mencium tangan dan pipinya lalu meminta maaf dan berjanji pulang cepat agar dia dapat bermain sepuasnya.
Dia tak menjawab, hanya terisak-isak dengan air mata masih meleleh di pipinya. Saya terpaksa berangkat karena jam kuliah semakin mendesak. Saya pergi dengan dada bergemuruh dan mata saya pun berkaca. Dan ternyata saya pun masih harus belajar banyak dari seorang faiz yang berusia 5 tahun… 

Tagged:

0 comments:

Post a Comment