15 February 2011

Akhir-akhir ini saya senang sekali mengamati tingkah laku anak-anak (anak siapa pun itu). Lucu, polos, apa adanya, tanpa dibuat-buat, mau orang suka ataupun tidak mereka lakukan saja, itulah sebabnya saya suka! Salah satu yang menarik perhatian saya adalah satu peristiwa dimana seorang anak berusia sepuluh tahun menyampaikan keluh kesahnya atau lebih tepat disebut gugatan. Begini ceritanya, suatu hari saya bermain seharian bersamanya, bahagia-bahagia saja, dia tertawa seharian. Tidak ada kejadian yang begitu istimewa di hari itu, dia senang karena bisa bermain kesana-kemari.
Hari berlalu, sore menjelang, seperti biasa semua bersiap melaksanakan shalat maghrib. Sejak semula memang anak ini selalu berusaha menggoda adiknya yang memiliki perbedaan usia lebih muda 3 tahun darinya, termasuk ketika shalat akan dimulai. Mereka terus saja saling tertawa-tawa, entah sarung yang ditarik lah, entah kelitikan lah, yang pasti itu membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal. Hingga ibu mereka melihat kejadian tersebut, dan diingatkanlah mereka dengan suara meninggi:
“Astagfirullahaladzim!Ade! Kakak! Ayo shalat! Dari tadi becanda terus! Cepet shalat!udah shalat langsung ngaji!”
Sontak gelak tawa dan acara penuh canda itu terhenti, berganti gerutuan dari kedua anak, yang kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan shalat berjamaah oleh mereka berdua.
Selesai shalat saya mencoba menghampiri si anak yang terlihat murung dan ngambek setelah kejadian tersebut. Saya coba membujuknya untuk mengaji dan tahukah anda apa jawabannya…
“Kenapa sih kakak harus ngaji? Ibu juga nggak ngaji, dimana-mana tuh harusnya orangtua yang nyontohin ke anak bukan anaknya yang disuruh-suruh terus!!!”
-speechless-

13 February 2011

Selasa, 08 Februari 2011 saya menerima telepon dari seorang bernama Revi yang meminta saya untuk menjadi moderator salah satu kegiatan seminar yang akan diselenggarakan oleh BPH Hima Kesejahteraan Sosial FISIP Unpad. Setelah sedikit memaparkan mengenai bentuk dan tema kegiatan, akhirnya saya meminta agar undangan dan TOR (Term of References) dikirim via email saja. Mengingat kegiatan akan dilakukan esok harinya ini berarti saya tidak punya cukup banyak waktu untuk bersiap. Selang satu jam kemudian, Revi kembali melakukan konfirmasi bahwa email sudah dikirim serta kembali menjelaskan secara singkat mengenai kegiatan seminar, begini kira-kira bunyi pesan singkatnya:
“Teh, email dah dikirim, pokonya besok seminarnya tentang kewirausahaan sosial yang berdampak pada pengembangan masyarakat. Pembicaranya ada dari Ibu Tri Mumpuni sama perwakilan dari Ashoka juga”
Saya terkejut, hingga membaca isi pesan singkat tersebut dua kali untuk memastikan. Pembicara seminar tersebut salah satunya adalah Ibu Tri Mumpuni? Ya, sosok yang beritanya pernah saya baca dari salah satu situs berita online dengan judul: “OBAMA PUJI TRI MUMPUNI SI PENERANG DESA”
Ibu Tri Mumpuni memang tokoh luar biasa, kiprahnya bersama suami dalam membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) sebagai sumber energi listrik bagi wilayah yang belum terjangkau atau sulit dijangkau oleh PT PLN dengan memanfaatkan potensi energi air yang terdapat di lokasi setempat untuk menggerakkan turbin. Sehingga tidak kurang 60 lokasi terpencil yang sebelumnya gelap gulita menjadi terang benderang dengan pembangkit yang mereka bangun. Hal inilah yang kemudian mencuri perhatian Presiden Barack Obama yang kemudian memuji beliau dalam pidato pembukaan untuk "Presidential Summit on Entrepreneurship" di Washington DC, Amerika Serikat pada tanggal 27 hingga 28 April 2010 lalu.
Ibu Tri Mumpuni, melalui Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (Ibeka) beraksi nyata di lebih dari 60 wilayah di Indonesia bahkan hingga Filipina. Kegiatan bisnis sosial yang beliau bangun dimaksudkan bukan hanya untuk keuntungan pribadi saja namun juga menyebarkan manfaat sebanyak-banyaknya untuk masyarakat sekitar.
Bertemu dengan beliau keesokan harinya, saya menangkap kesan bahwa sosok yang saya dampingi ini bukan hanya memikat karena karya dan pengalamannya, namun juga luar biasa dengan pembawaannya yang ramah dan bersahaja. Paparan beliau sungguh menarik, penyajian data mengenai betapa kaya rayanya Republik ini membuka mata bahwa Indonesia bukan NEGARA MISKIN. Semua orang tentu setuju dan tidak mengelak dengan ungkapan tersebut, namun apa yang terjadi di Indonesia sehingga seluruh kekayaan yang ada tidak menjadikan masyarakat sejahtera? Mengapa banyak sekali penduduk Indonesia yang berstatus “Ekstrim Miskin”?
Dengan kekayaan yang begitu berlimpah akhirnya banyak dari kita larut dalam “zona nikmat” dan tak punya cukup nyali untuk mengubah diri dan keadaan sekitar. Apa yang terjadi kemudian? Kita yang merupakan bangsa yang besar tetap terjajah di bawah ketiak Kapitalis. Satu kalimat menarik beliau lontarkan:
“Kita seringkali lebih bangga menjadi ekor harimau dibandingkan menjadi kepala kucing”
Ya, sebuah kalimat sederhana yang bermakna mendalam. Selama kemandirian ekonomi belum terbentuk maka masalah sosial akan terus muncul dari waktu ke waktu.

Belum habis kekaguman saya pada penjelasan Ibu Tri Mumpuni, saya harus memanggil satu narasumber lain yang tidak kalah luar biasa. Remaja yang baru saja menyelesaikan pendidikan tingkat SMU ini bernama Fahmi Dini. Masuk dalam ASHOKA Young Change Maker, Ami (begitu beliau biasa disapa) membuat dewan juri berdecak kagum dengan kegiatan kewirausahaan sosial yang dirintisnya sejak SMU. Pembimbing dan pendiri sebuah ekskul bimbingan belajar gratis bernama “E.L.O.C.13 “ini berusaha fokus pada kepeduliaan terhadap lingkungan. Oleh karena itu, kegiatan E.L.O.C.13 tidak hanya bimbingan belajar, namun juga bergerak aktif melakukan sosialisasi ramah lingkungan. Hal ini menjadikan Ami semakin bersemangat dan membuat komunitas baru bernama “Cangkul Hejo”.
Ami, dengan usianya yang semuda itu membuat semua yang hadir terpana. Dalam usaha melakukan sosialisasi kepedulian lingkungan, sebuah analisis menarik ia lontarkan:
“Saya tertarik melihat seorang anak SD yang memiliki pengaruh luar biasa ditengah teman-temannya. Dia bisa menenangkan kelas hanya dengan satu kalimat saja, padahal di sisi lain guru mereka telah berulang kali menenangkan. Dari situ saya berpikir bahwa teman dapat memiliki pengaruh lebih kuat dibandingkan guru. Akhirnya saya buat pola sosialisasi lingkungan dengan membuat Duta Ligkungan Kelas yang bertugas “mempengaruhi” teman-teman sekelas untuk peduli terhadap lingkungan”. Sungguh sebuah semangat yang tidak biasa dari seorang remaja putri yang baru berusia 18 tahun.
Dari keduanya saya belajar, bahwa kita tak bisa hanya terus mengutuk masalah yang terjadi di sekitar kita. Peduli dan bergerak menciptakan tindakan nyata akan lebih memberi arti bagi mereka yang mungkin tak seberuntung kita dan tak ada alasan untuk tidak memberi arti, mengutip motto yang diungkapkan Ibu Tri Mumpuni: “Hidup sekali, hiduplah yang berarti”.