Akhir-akhir ini saya senang sekali mengamati tingkah laku anak-anak (anak siapa pun itu). Lucu, polos, apa adanya, tanpa dibuat-buat, mau orang suka ataupun tidak mereka lakukan saja, itulah sebabnya saya suka! Salah satu yang menarik perhatian saya adalah satu peristiwa dimana seorang anak berusia sepuluh tahun menyampaikan keluh kesahnya atau lebih tepat disebut gugatan. Begini ceritanya, suatu hari saya bermain seharian bersamanya, bahagia-bahagia saja, dia tertawa seharian. Tidak ada kejadian yang begitu istimewa di hari itu, dia senang karena bisa bermain kesana-kemari.
Hari berlalu, sore menjelang, seperti biasa semua bersiap melaksanakan shalat maghrib. Sejak semula memang anak ini selalu berusaha menggoda adiknya yang memiliki perbedaan usia lebih muda 3 tahun darinya, termasuk ketika shalat akan dimulai. Mereka terus saja saling tertawa-tawa, entah sarung yang ditarik lah, entah kelitikan lah, yang pasti itu membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal. Hingga ibu mereka melihat kejadian tersebut, dan diingatkanlah mereka dengan suara meninggi:
“Astagfirullahaladzim!Ade! Kakak! Ayo shalat! Dari tadi becanda terus! Cepet shalat!udah shalat langsung ngaji!”
Sontak gelak tawa dan acara penuh canda itu terhenti, berganti gerutuan dari kedua anak, yang kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan shalat berjamaah oleh mereka berdua.
Selesai shalat saya mencoba menghampiri si anak yang terlihat murung dan ngambek setelah kejadian tersebut. Saya coba membujuknya untuk mengaji dan tahukah anda apa jawabannya…
“Kenapa sih kakak harus ngaji? Ibu juga nggak ngaji, dimana-mana tuh harusnya orangtua yang nyontohin ke anak bukan anaknya yang disuruh-suruh terus!!!”
-speechless-
Hari berlalu, sore menjelang, seperti biasa semua bersiap melaksanakan shalat maghrib. Sejak semula memang anak ini selalu berusaha menggoda adiknya yang memiliki perbedaan usia lebih muda 3 tahun darinya, termasuk ketika shalat akan dimulai. Mereka terus saja saling tertawa-tawa, entah sarung yang ditarik lah, entah kelitikan lah, yang pasti itu membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal. Hingga ibu mereka melihat kejadian tersebut, dan diingatkanlah mereka dengan suara meninggi:
“Astagfirullahaladzim!Ade! Kakak! Ayo shalat! Dari tadi becanda terus! Cepet shalat!udah shalat langsung ngaji!”
Sontak gelak tawa dan acara penuh canda itu terhenti, berganti gerutuan dari kedua anak, yang kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan shalat berjamaah oleh mereka berdua.
Selesai shalat saya mencoba menghampiri si anak yang terlihat murung dan ngambek setelah kejadian tersebut. Saya coba membujuknya untuk mengaji dan tahukah anda apa jawabannya…
“Kenapa sih kakak harus ngaji? Ibu juga nggak ngaji, dimana-mana tuh harusnya orangtua yang nyontohin ke anak bukan anaknya yang disuruh-suruh terus!!!”
-speechless-




