Pic source:id-id.facebook.com
Sore ini tanpa
sengaja saya menonton sebuah tayangan di Trans7 yang berjudul Orang Pinggiran. Kali ini bercerita tentang Juli, seorang penjual kantong kresek di sebuah pasar yang sepertinya di
daerah Bandung. Saya menebak itu di daerah Bandung karena Juli menggunakan bahasa
sunda ketika diwawancara. Saya tidak tahu pasti karena baru menonton ketika tayangan sudah
berjalan setengahnya, hehe… :D
Kenapa saya sampai
tertarik untuk me-review tayangan ini, jujur saja saya tidak akan sama sekali
menyoroti kehidupan Juli dan keluarganya yang tidak seberuntung kita sehingga
harus berjualan keresek di pasar untuk menghidupi keluarganya, bukan..bukan itu
yang akan saya soroti. Yang ingin saya soroti adalah hal menarik yang juga
menjadi komentar Babap (Bapak saya) yang juga menonton pada saat itu “lihat
bagaimana dia berjuang!”
Sesuai dengan
deskripsi program yang dipaparkan dalam situs Trans7, Orang Pinggiran merupakan program acara semi dokumenter
yang bercerita mengenai perjuangan orang pinggiran untuk bisa bertahan hidup
meskipun dengan keterbatasan.
Kembali lagi pada
kisah Juli, seorang remaja yang terlihat masih berumur belasan setiap hari
mencari penghasilan dari berjualan keresek di pasar untuk menghidupi
keluarganya. Di rumah, Juli tinggal bersama orang tua dan kedua adiknya, jika
di total semua ada 5 anggota keluarga. Di pasar Juli mengambil barang dari
salah seorang pedagang yang sudah mempunyai kios. Juli menjajakan kantong
keresek besar, lap tangan, dan kain tipis
yang sering digunakan untuk menanak nasi (dalam bahasa sunda disebut ‘gembol’).
Lap tangan dan gembol nasi dihargai Rp. 2000-Rp. 2500 adapun kantong keresek
saya tidak menyimak berapa harganya, yang pasti dalam satu hari Juli mendapat
penghasilan antara Rp. 13.000-Rp.15.000. Penghasilan tambahan terkadang ia
peroleh pula dari upah membantu membereskan kios di pasar ketika waktu tutup
tiba. Penghasilan Juli selain ia gunakan untuk makan sehari-hari, juga
dikeluarkan pula untuk ongkos sebesar Rp. 6.000 untuk perjalanan pulang-pergi
dari rumah menuju pasar.
Ada satu pernyataan
Juli yang membuat hati saya terenyuh mendengarnya, kira-kira begini bunyinya:
“saya ingin adik-adik saya bersekolah, saya ingin nanti mereka bisa
bekerja bisa jadi pegawai”
Juli memang hanya
menamatkan pendidikannya hingga Sekolah Dasar, itulah sebabnya pekerjaan pun
tak mudah ia dapatkan. Tapi semangatnya tak surut hanya karena ia tak
berpendidikan tinggi, ia tetap berusaha melakukan pekerjaan yang dapat
dilakukannya untuk mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarganya. Walaupun harus
menempuh jalan hingga 10 km untuk menuju pasar dimana setiap hari ia menjajakan
keresek-nya, Juli tak berhenti dan berputus asa. Dia tetap berjalan, tetap
berusaha, seperti tak peduli berapapun yang ia dapatkan, asal dapat tetap
membantu orangtuanya dan membiayai adik-adiknya.
Itulah Juli, sosok
yang sore ini memberikan inspirasi dan memecut saya untuk bersyukur. Bersyukur bukan
hanya dengan kata-kata tapi juga dengan totalitas dalam melakukan segala usaha.
Semoga menjadi inspirasi pula bagi anda semua.[]






0 comments:
Post a Comment