15 November 2011

Pic source:id-id.facebook.com

Sore ini tanpa sengaja saya menonton sebuah tayangan di Trans7 yang berjudul Orang Pinggiran. Kali ini bercerita tentang Juli, seorang penjual kantong kresek di sebuah pasar yang sepertinya di daerah Bandung. Saya menebak itu di daerah Bandung karena Juli menggunakan bahasa sunda ketika diwawancara. Saya tidak tahu pasti karena baru menonton ketika tayangan sudah berjalan setengahnya, hehe… :D

Kenapa saya sampai tertarik untuk me-review tayangan ini, jujur saja saya tidak akan sama sekali menyoroti kehidupan Juli dan keluarganya yang tidak seberuntung kita sehingga harus berjualan keresek di pasar untuk menghidupi keluarganya, bukan..bukan itu yang akan saya soroti. Yang ingin saya soroti adalah hal menarik yang juga menjadi komentar Babap (Bapak saya) yang juga menonton pada saat itu “lihat bagaimana dia berjuang!”

Sesuai dengan deskripsi program yang dipaparkan dalam situs Trans7, Orang Pinggiran merupakan program acara semi dokumenter yang bercerita mengenai perjuangan orang pinggiran untuk bisa bertahan hidup meskipun dengan keterbatasan.

Kembali lagi pada kisah Juli, seorang remaja yang terlihat masih berumur belasan setiap hari mencari penghasilan dari berjualan keresek di pasar untuk menghidupi keluarganya. Di rumah, Juli tinggal bersama orang tua dan kedua adiknya, jika di total semua ada 5 anggota keluarga. Di pasar Juli mengambil barang dari salah seorang pedagang yang sudah mempunyai kios. Juli menjajakan kantong keresek besar, lap tangan, dan kain tipis  yang sering digunakan untuk menanak nasi (dalam bahasa sunda disebut ‘gembol’). Lap tangan dan gembol nasi dihargai Rp. 2000-Rp. 2500 adapun kantong keresek saya tidak menyimak berapa harganya, yang pasti dalam satu hari Juli mendapat penghasilan antara Rp. 13.000-Rp.15.000. Penghasilan tambahan terkadang ia peroleh pula dari upah membantu membereskan kios di pasar ketika waktu tutup tiba. Penghasilan Juli selain ia gunakan untuk makan sehari-hari, juga dikeluarkan pula untuk ongkos sebesar Rp. 6.000 untuk perjalanan pulang-pergi dari rumah menuju pasar.

Ada satu pernyataan Juli yang membuat hati saya terenyuh mendengarnya, kira-kira begini bunyinya:
saya ingin adik-adik saya bersekolah, saya ingin nanti mereka bisa bekerja bisa jadi pegawai”
Juli memang hanya menamatkan pendidikannya hingga Sekolah Dasar, itulah sebabnya pekerjaan pun tak mudah ia dapatkan. Tapi semangatnya tak surut hanya karena ia tak berpendidikan tinggi, ia tetap berusaha melakukan pekerjaan yang dapat dilakukannya untuk mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarganya. Walaupun harus menempuh jalan hingga 10 km untuk menuju pasar dimana setiap hari ia menjajakan keresek-nya, Juli tak berhenti dan berputus asa. Dia tetap berjalan, tetap berusaha, seperti tak peduli berapapun yang ia dapatkan, asal dapat tetap membantu orangtuanya dan membiayai adik-adiknya.

Itulah Juli, sosok yang sore ini memberikan inspirasi dan memecut saya untuk bersyukur. Bersyukur bukan hanya dengan kata-kata tapi juga dengan totalitas dalam melakukan segala usaha. Semoga menjadi inspirasi pula bagi anda semua.[]

Tagged:

0 comments:

Post a Comment