28 December 2009

“nak…pergilah ke pasar!”
“membeli apa bu?”
“pergi saja, bawa catatan ini. Jangan kau buka! berikan saja pada Takdir!”
“Baiklah” 

Aku pergi, tanpa kemudi hanya dengan kaki. Berjalan bersiul-siul meski kepalaku penuh penat dengan pertanyaan. Ibu menyuruhku ke pasar, membawa catatan bagai mantera. Pesannya hanya satu, bertemu Takdir dan memberi catatan ini. Tak ada yang istimewa memang, biasa saja.
Aku berjalan, bertemu orang berlari-lari, kadang terengah dan berhenti. Aku berjalan saja, tak lambat dan tak cepat,tak dilebih-lebihi dan tak lampaui. Ah..berjalanku sudahpun jauh, tak kutemukan juga pasar itu.
Aku berhenti, lelah sudah terengah-engah. Masa terbuang tenaga hampa, aku dilema hampir putus asa. Dimanakah pasar yang ibu ingin aku tuju. Salahku tak tanya peta, arah dan tempat sudah tak tersapa, mata buta tak ada pelita.
Di depan kulihat pemuda, tengah duduk dan lelah sepertinya. Seperti aku ia pun menunduk. Peluhnya terjatuh tak sengaja. Alangkah baiknya jika kusapa sepertinya.

“Hai tuan hendak kemanakah gerangan?”
“Tak ada, hanya berjalan saja”
“Tak mungkin begitu adanya, tentulah tuan miliki tujuan”
“Tak ada! Dan Tak usah memaksa!”
“oh…maaf tuan saya sekedar bertanya”
“Sudahlah lupakan!”
“Tak bertanyakah tuan tentang saya?”
“Untuk apa?”
“Untuk peduli dan perhati”
“Peduli sudah dimakan kutu-kutu dengki, perhati telah mati suri”
“Ah…saya tak mengerti”
“pantas saja!Kau tak tahu bahwa bertanya sekarang sudah dilarang?”
“Sejak kapan tuan?”
“Sejak jawaban disembunyikan!”
“Disembunyikan?”
“Ya…disembunyikan…ah..lagi-lagi kau tak mengerti”
“Saya hendak ke pasar, sudikah tuan menunjukan arah?”
“Belok saja”
“Belok kemana tuan?”
“Belok saja kataku! Tak ada jalan lurus menuju pasar”
“Ah baiklah…terima kasih tuan”
“Aduhai…jangan berterima kasih!!! Tak tahukah kau keagungannya, tak boleh sembarang berterima kasih, nanti mulia kau dibuatnya.”
“apa?”
“sudah!Pergi!”


Tak mengerti lagi-lagi tak mengerti. Sejak pertama melangkah akupun telah tak mengerti. Apa maksud ibu aku hanya jalani. Sesuai petunjuk aku berbelok, berbelok berkali-kali. Tak ada tanda akan kutemukan pasar, tapi aku hanya menuruti, laki-laki dengan arti yang tak kutemui.
Sayup-sayup terdengar suara, riuh rendah aku hapal wujudnya. Ya,itu pasar pastinya, senang bukan kepalang aku tertawa. Semakin dekat jantungku berdegup, berdetak-detak serasa ingin melompat. Ah…pasar…akhirnya kutemukan jua engkau. Tak sia-sia berjalan hingga sejauh ini, karena tujuan telah aku tahu pasti kini.
Sebelum masuk aku harus antre, berbanjar-banjar dari luar. Gerbang belum dibuka, manusia-manusia berkumpul di gerbangnya. Sebelah kiri kulihat seorang renta, tangan bergetar mata tak bercahaya. Terbata-bata meminta iba, namun tak seorang menoleh padanya. Kuhampiri dan duduk di sebelahnya, dan terbukalah dialog dua manusia:

“Sedang apa ibu renta?”
“Hai mengapa kau keluar dari banjar-banjar itu?!! Ayo lekas kembali”
“Tak apa, aku bisa masuk antre lagi!”
“Tak bisa! Ayo lekas kembali”
“Tak apa, tak usah khawatir ibu renta. Jawablah pertanyaanku mengapa kau disini?”
“Membeli keadilan nak…”
“Apa? Jangan bercanda ibu renta! Pasar ini menjual keadilan?”
“Mengapa kau heran anak muda? Setiap orang harus membeli keadilan”
“Bagaimana bisa?”
“Bisa saja,kau tak akan mendapat keadilan jika tak membelinya”
“Adil itu murni ibu renta, tempatnya di telaga nirwana, dijaga dewa dalam jelaga, bagaimana mungkin kau dapat membelinya?”
“Adil ini hanya replika, setidaknya sedikit menyelamatkan manusia dari huru-hara. Semua dapat dibeli di pasar ini.”
“Ah..yang benar saja!”
“Mengapa kau tak percaya?”
“Adil mana bisa dibuat replika, adil itu nyata!”
“Bangun dari tidurmu nak! sudah sejak lama dunia kehilangan wujud adil yang sesungguhnya. Telaga nirwana dikunci selamanya, karena manusia sungguh durhaka mempemainkannya”
“Lalu, dengan apa kau membeli replika adil?”
“Dengan cendana, kesukaan sang penjaga. Ia akan berikan replika dengan senang bukan kepalang”
“Tidakkah dia punya hati menjual replika adil?”
“Tidakkah kau tahu bahwa mereka memang tak punya hati?! Menjadi penjaga replika berarti mencabut hati dari akar jiwamu!”
“Apa? Mengapa semua jadi begini?”
“Sudahlah anak muda!jangan bertanya! Karena jawaban telah disembunyikan wujudnya!”

Aku kembali ke dalam banjar-banjar tadi, tak tahan rasanya memperhatikan semua ini. Jawaban yang disembunyikan hingga keadilan dalam replika sungguh membuat aku putus asa dibuatnya. Adakah kehidupan yang biasa saja, dalam tentram dan damai yang selalu ku pinta? Ah… aku lupa tak boleh bertanya, karena jawaban telah disembunyikan adanya.
Aku masih menggenggam catatan ibu, mencari seorang bernama Takdir. Kembali berjalan di tengah hiruk pikuk manusia yang menunggu gerbang dibuka. Bosan aku bertanya, karena jawaban disembunyikan wujudnya. Maka aku berjalan saja, berharap temukan Takdir di hadapan. Putus asa aku berteriak sekuat tenaga “Takdir! Dimana kau! Aku mencarimu!!!”. Seketika Takdir mendekat tanpa berkata tanpa bicara, matanya riak seolah bertanya. Segera aku berikan catatan ibu. Tanpa lama dia membaca, menatapku lekat-lekat dan mengangguk penuh asa. Ia kembalikan catatan ibu, sorot matanya bagai berkata agar aku segera pulang. Dalam langkah aku membaca, pesan tertera dalam mantera :

“Takdir… ini anakku,Nurani namanya.
Jangan coba-coba memberinya replika adil,
karena di tangannya kunci telaga nirwana akan terbuka.
Camkan itu!”

10 December 2009


Sore ini rinai, tetap rinai sedari pagi
Aku dalam angkutan kota,
Menyaksikan gerimis yang turun satu-satu.

Angkutan kota menunggu penumpang,
Agar setoran tak kurang saat pulang.
Seorang ibu dan anak naik
Oh… sang supir pun menjadi riang

Sang anak menggenggam es krim
Warnanya merah muda menggoda
Tentu segar rasanya
Menjilat-jilat dengan bahagia
Seolah berkata: “Ini hartaku satu-satunya!”

“Kiri!!!” teriak sang ibu tiba-tiba
Tujuannya terlewat sepertinya
Kontan ia menarik tangan anaknya
Anak yang bahagia menjilati es krim tadi

Tiba-tiba es krim terjatuh
Kontan pula sang anak menangis
Memandangi bahagia yang mencair di atas panasnya mesin angkutan kota
Lalu sang ibu membentaknya sengaja
“Sudah tumpah! Biarkan saja!”
Sang anak masih menangis dan terus menangis

Aku terdiam
Memandangi es krim yang meleleh itu
Bergegas meraih telepon genggam
Kutulis pesan singkat
“Nak… ibu akan membelikanmu es krim strawberry. Tak usah membalas pesan!”
Beberapa saat kemudian muncul tulisan di layar
-Pesan Terkirim-
Mungkin akan sampai beberapa tahun lagi
Aku diam…
Kembali memandangi jalanan yang menjadi sunyi

30 October 2009


Seorang anak berusia tiga tahun suatu waktu menjatuhkan gelas kaca yang tengah di pegangnya, kontan gelas jatuh dan pecah. Si anak terdiam kaget, telah terbayang bagaimana ibunya akan memarahinya karena tak dapat memegang gelas tersebut dengan baik. Namun apa yang terjadi? Alih-alih memarahinya sang ibu hanya menghampiri dan berkata “Gelasnya pecah ya…? Ga papa, nanti kita beli gelas baru lagi, ade kan masih belajar pegang gelas ya…”
                Ya, mungkin kita akan berpikir betapa bijak sang ibu menghadapi anaknya. Ia tidak menempatkan standar dirinya yang berusia 30 tahun pada anaknya yang hanya berusia 3 tahun. Bagi usianya yang dewasa, memegang gelas dengan tanpa menjatuhkannya adalah hal yang tak sulit untuk dilakukan. Jelas begitu adanya, karena selama 30 tahun ibu tersebut telah berkali-kali memegang gelas, tangannya pun tentu telah lebih mantap ketika menggenggamnya walaupun hanya dengan satu tangan. Berbeda dengan anaknya yang hanya berumur 3 tahun, gelas harus dipegang oleh kedua tangan mungilnya, tentunya akan lebih tinggi resiko untuk menjatuhkannya.
                Banyak dari kita yang seringkali menghadapi situasi tersebut, entah dengan teman, saudara ataupun rekan kerja. Namun terkadang kita tak berlaku adil dengan menyikapi hal tersebut secara emosional. Mengapa tak adil? Tak adil jika kita tak memberinya kesempatan untuk belajar. Selayaknya anak berumur 3 tahun tadi, mungkin orang yang sedang kita hadapi hanyalah seorang anak kecil berumur 3 tahun sedangkan kita adalah orang dewasa berumur 30 tahun.
                Seorang rekan pernah mengingatkan saya “Jika ingin bijak dalam menyikapi sesuatu, maka jangan ‘memaksakan’ standar diri kita pada orang lain”. Dan hingga saat ini jika berhadapan dengan hal yang tidak saya suka pada orang lain, saya selalu belajar memahami. Karena mungkin orang yang saya hadapi hanya seorang anak berumur 3 tahun.


                Kisah menarik selalu terjadi setiap hari, seakan Allah ingin mengirim pesan-pesan ringan di sela-selanya agar manusia banyak belajar. Dua hari yang lalu saya bersama beberapa rekan dikondisikan dalam salah satu situasi pembelajaran berharga itu. Adalah botol selai yang memberikan kami pelajaran. Ya, sebotol selai strawberry yang amat sulit dibuka. Pada saat itu lima orang berkumpul, dan tak ada satupun yang dapat membuka botol selai itu, termasuk saya tentunya. Entah ada apa dengan botol selai itu, hingga akhirnya tak ada pilihan lain di dalam pikiran kami kecuali membukanya paksa menggunakan benda tajam, atau memecahkan botol kacanya agar dapat mengambil selai strawberry di dalamnya.
                Namun salah seorang dari kami tak ingin menyerah begitu saja. Ia akhirnya meraih botol kemudian duduk bersila dengan kedua tangan menggenggam botol dan memejamkan mata, dan ia berkata “kita harus berkompromi dengan botol ini, tubuh dan kekuatan kita harus menyatu dengannya”. Kami semua tertawa melihat aksinya, terlihat tak masuk akal dan hanya sebuah lelucon belaka, kami pun tak menghiraukannya. Selang beberapa menit terdengar suara “krekk” dan ternyata botol berhasil dibuka olehnya. Ia meletakan botol selai di atas meja dengan senyum mengembang, dan kami hanya dapat diam beberapa saat karena tak percaya.
kuatkan pikiran dan fokus! Maka kita dapat melakukan dan mendapatkan apapun! Kekuatan pikiran dan sugesti diri…terbukti kan…?!” ucapnya renyah seraya tertawa. Aku masih termenung, memandangi botol selai. Itulah hidup, suatu saat akan menemukan kebuntuan dan kesulitan, namun semuanya dapat terbuka tanpa harus memecahkan atau merusak. Keyakinan dan usaha maksimal, itulah kuncinya. Bukankah Allah memberi pesan dalam Q.S. al-Insyirah 5-6:Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (5) sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Yakin bahwa setiap kesulitan selalu disertai dengan kemudahan, berbekal keyakinan dan usaha maksimal. Pelajaran berharga yang saya dapat dari sebotol selai.

12 October 2009



                Saat ini saya ingin menulis. Menulis apa, saya juga tidak tahu, ingin menulis saja. Atau lebih tepatnya mungkin mengembalikan lagi mood menulis. Setelah sekian lama tak menulis, rasa-rasanya otak menjadi tumpul,  miskin ide, tersiksa. Jadi sekarang saya mulai menulis kembali, sebenarnya beberapa waktu lalu saya bukan tidak menulis, saya tetap menulis, tapi tulisan yang tidak saya sukai, tulisan yang didasari atas perintah dan aturan manusia, saya tak suka.
 Akhirnya kembalilah saya pada tulisan yang saya inginkan, menulis dengan apa adanya, menulis dengan “jiwa”, menulis dan bukan hanya merangkai kata-kata. Tulisan ibaratnya pakaian yang saya pilih, atau makanan yang saya suka, atau juga merek mobil yang saya ingin membelinya. Tulisan adalah identitas bagi saya, tulisan adalah karakter dan juga jiwa sang penulis yang berbentuk kata-kata. Maka dengan membaca tulisan seseorang, maka kita akan tahu bagaimana orang tersebut sebenarnya. Ah…saya memang sok tahu, tapi tak apalah yang penting saya kembali menulis.
Ingin sekali menulis bukan karena tidak ada yang harus saya kerjakan, menulis di tengah-tengah kesibukan, menulis ditengah tuntutan banyak tugas, menulis di tengah tekanan banyak yang harus dilakukan. Karena menulis adalah nyawa, tidak menulis mungkin saya pilih mati saja. Ah… berlebihan memang, tapi lagi-lagi tak apalah, yang penting saya menulis, itu saja.
               

10 October 2009


                Pagi ini begitu cerah, burung-burung terbang beriringan berkejar-kejaran, bercanda dengan cuit-cuit manja. Mereka terbang dari satu atap ke atap lain, mengucapkan selamat pagi pada seluruh penghuni bumi. Burung-burung menebarkan semangat, semangat diterbangkan angin, angin meliuk-liuk menyapa tanah, tanah menggeliat dan tertawa, tawanya membahana hingga ke langit, kemudian langit mengerling manja pada mentari, mentari tertawa dan menari menebar sinarnya kesana dan kesini. Hangat mentari menyiram bumi, dan aku yang berpjak di atasnya menikmati hangatnya tanpa henti. Oh…terima kasih Tuhan untuk setiap episode pagi yang begitu indah ini.
                Aku pun tak lepas dari semangat itu, begitu meluap dan membuncah, bahkan meluber kemana-mana, hingga semua hal begitu semangat aku jalani. Pagi ini ibuku memberi aku sarapan nasi goreng dengan taburan kering tempe spesial dan udang goreng renyah di atasnya. Sebelumnya ku tengok bagaimana beliau memasaknya. Aduhai…begitu semangat memancar dari caranya meramu bumbu-bumbu, memotong-motong, menggoreng, menumis, mengaduk…oh…harmoni yang indah sekali. Semangat bagai kerlap-kerlip yang bersinar-sinar. Dan kini aku memegang sepiring nasi goreng yang dimasak dengan semangat kerlap-kerlip itu.
                Aku memakannya sedikit demi sedikit, dimulai dari tepi piring, karena tidak ingin merusak kering  tempe spesial dan udang goreng renyah yang dibuat sebagai garnish itu. Ajaib! Seketika semangat ibuku ketika memasaknya menular padaku yang tengah termenung di depan layar monitor. Maka aku pun menulis dan merangkai kata-kata, jari jemariku menari, melompat-lompat dari satu kata ke kata yang lain, tak terputus terus bersahutan. Tak ada jeda sedikitpun, terus mengalir, ide-ide berhamburan, oh…indahnya pagi ini. Tulisan belum rampung aku beranjak karena mendengar suara Naura, adik kecil tetangga sebelah yang amat lucu. Setiap pagi ia berjalan bersama bundanya, menyapa semua orang yang ditemuinya dengan tawa, dan dia pun membagi ceria di pagi ini. Aku melongokkan kepala dari jendela, “Naura…Naura…Neng…” panggilku padany. Ah…dia tersenyum padaku, senyum terindah di seluruh dunia.
                Ibuku keluar menghampiri Naura pula, ingin meminta sejumput senyum dari ujung-ujung bibirnya, agar ceria sisa harinya. Oh…ia mendapatkannya pula, Naura kembali tersenyum dan pagi pun semakin semarak. Di tengah senyum-senyum yang berwarna-warni itu datanglah tukang tiang bendera, memanggul empat buah tiang untuk mengikat tali-tali bendera pada perayaan tujuh belasan nanti. Dia pun tak lepas dari semangat, senyumnya mengembang ketika menawarkan tiang bendera, jalannya mantap, empat tiang bendera di pikulannya serasa ringan sekali nampaknya. Ah…dia pun tersenyum, menawarkan dengan tulus pada kami, siapa tahu berkenan membeli. Aku suka caranya menawarkan, dia seorang tukang tiang bendera yang tulus dan bersemangat, dia tak peduli apakah tiangnya akan terjual atau tidak, dia hanya berjalan dengan semangat, menawarkan sambil tersenyum. Adapun jika orang yang ditawarkannya menolak, maka ia pun berlalu dengan tak lepas senyum dari bibirnya.
                Semangatnya menular pada kami, dan pagi ini rizki menyapanya dengan ramah, seramah ia menyapa kami. Bapakku yang tengah pulang dari olahraga paginya memanggil tukang tiang bendera untuk membeli satu tiang bendera. Ah…alangkah senangnya tukang tiang bendera itu, hingga ia menurunkan harga jualnya. Ia pun membuka ikatan tali tiang-tiang bendera, dengan tetap semangat tentunya. Bapakku melihat semangat dan keikhlasannya, maka ia pun ingin melakukan semangat dan keikhlasan pada yang lain. Bapak tak hanya membeli satu tiang bendera tapi dua! Untuk diberikan pada tetangga kami di sebelah rumah. Tetangga kami yang telah berkontribusi dalam membuat pagi ini semakin ceria karena ia adalah ibu dari Naura, yang sedari tadi menebarkan senyum-senyum manis pada setiap yang ditemuinya. Lalu datanglah tetangga kami satu lagi karena melihat kami begitu bersemangat dia pun menghampiri. Bertanya ini dan itu menjawab ini dan itu. Lalu pandangannya jatuh pada tiang bendera yang sedang kami perbincangkan, ia pun tak ingin ketinggalan membagi kebahagiaan pada tukang tiang bendera. Dibelinya satu lagi untuk memasang ikatan-ikatan bendera di rumahnya.
                Ah…indah sekali pagi ini, alam raya bersemangat dengan tariannya, ibuku bersemangat dengan nasi gorengnya, aku bersemangat dengan tulisanku, Naura bersemangat menebar senyum termanisnya, Bapakku semangat membagi bahagia dan keikhlasan, Tukang tiang bendera semangat memikul tiangnya demi menghidupi anak istri tentunya, tetangga-tetanggaku pun tertular semangat yang semakin melebar efeknya ini. Semuanya menjadi semangat…pagi yang semangat…tak ada alasan untuk diam ataupun mengeluh…dan kami bersyukur atas pagi yang semangat ini Tuhan… []GP120809
Siang begitu terik, membakar kulit hingga ubun-ubun, panas dan mendidihkan otak. Aku berjalan gontai, ingin pulang sedari tadi namun tak tahu kemanakah arahnya. Hanya berjalan saja sampai kaki lelah dan patah, berjalan dan terus berjalan, tak kutemukan seorang maupun seekor makhluk pun, mungkin semua enggan untuk berjalan, atau mungkin semua telah menemukan jalan pulang, entahlah... Sendiri, lelah, dan kehausan, kesadaranku mulai menurun. Tiba-tiba kulihat setitik benda kecil bergerak mendekat di kejauhan. Sebuah bus! Semakin mendekat, dan tentunya tak sekecil ketika kulihat pertama kali tadi di kejauhan.
                Kucoba hentikan bus yang melaju dengan amat sangat lambat itu. Bus berhenti, aku meraih pegangan di samping pintu masuk dan kunaiki undakan tangga-tangga kecil yang berjumlah empat buah. Sang supir berwajah seram, jangan tanyakan padaku definisi ‘seram’, yang pasti aku kecut melihatnya. Niat hati bertanya pun terurungkan sudah. Ku edarkan pandangan ke sekeliling, mencari tempat duduk . Semua orang tengah tertidur, dan pandanganku menangkap sesosok pria yang terbangun karena terkaget setelah bus berhenti mendadak ketika aku naik tadi.
                Aku menghampirinya, tersenyum ramah dan meminta ijin untuk duduk di sampingnya. Ia hanya mengangguk tanda setuju dan aku duduk di sampingnya. Panas tak juga mereda, bahkan semakin menjadi karena pengapnya bus. Seluruh jendela di d alam bus tertutup rapat, semakin lama aku semakin sulit bernapas. Aku melirik pada jendela di samping kananku, tentunya tak dapat langsung kubuka karena terhalang pria di sampingku. Dia mengerti, dan membukakan jendela untukku. Namun tak merubah keadaan, sesak, pengap, udara menguap bersama bau keringat dari orang-orang di dalam bus. Sebenarnya bus ini tak begitu penuh sesak, namun udara terasa amat sangat tipis. Oksigen mungkin telah menguap bersama panas mendidih di dalam bus. Aku mencoba menguatkan diri, walau sebenarnya keringat membanjir dan dada semakin sesak. Tapi aku ingin pulang, jadi ku abaikan semua yang kurasakan saat ini, walau sejujurnya amat sangat mengganggu.
                “Hendak kemana anak muda?” sebuah suara dari sampingku memecah kesuyian.
                “Hendak pulang” jawabku diiringi senyum, tanda bahagia karena pada akhir perjalanan ini aku akan menemukan tujuanku, pulang…
                “Baru kali ini kau menggunakan bus ini?” lanjut pria di sampingku dengan datar, ucapannya tak diiringi ekspresi apapun di wajahnya.
                “Hah…?mmm…ya nampaknya begitu” jawabku setengah bingung, karena baru terpikirkan bahwa aku baru kali ini menggunakan bus ini untuk pulang.
                “Pulang kemana?” lanjut pria tersebut, masih ada saja pertanyaannya untukku, tak apalah agar aku melupakan udara pengap dan panas ini.
                “Pada Kasih sayang dan penghargaan” jawabku antusias, karena siapa tahu pria ini tahu kemana arah jalan pulangku.
                “Apa?!!! Hahaha…hahaha…hahaha…hahaha…” tiba-tiba pria ini tertawa begitu keras, tertawa puas dan melecehkan, saking kerasnya ia membangunkan seluruh penumpang yang sedari tadi tertidur.
                “Cuih!!!” Dia meludah tepat di mukaku, terasa panas dan membakar. “Penghargaan dan kasih sayang?!! Atas dasar apa kau ingin dihargai?! Hah?! Jawab!!!” ucapnya seraya mencengkram kerah kemejaku. Semua orang di dalam bus menghampiri, mencari tahu apa yang sedang terjadi. “Orang ini akan pulang pada penghargaan dan kasih sayang, mulutnya begitu busuk mengatakan dua kata itu dengan seenaknya saja! Mulutmu saja tak pernah dibasuh air ikhlas! bagaimana mungkin kau berani mengatakannya!!!Kau tak pantas mendapatkannya!!! Penghargaan dan kasih sayang yang kau pahami adalah pemahaman tai kucing!!!Cuih!” Dia menunjuk-nunjuk wajahku pada semua penumpang bus. Suaranya tinggi dan semakin meninggi, kemudian meludah ke arah sepatuku. Aku terhenyak, terkaget, dan tak dapat bicara sepatah kata pun.
                “Lalu kemanakah seharusnya aku pulang?” tanyaku dengan gemetar
                “Atas alasan apa aku dapat dengan mudah mengatakannya padamu, hah?!”
                “Karena akulah pemberi manfaat pada orang banyak, aku bersedekah, aku membangun tempat-tempat ibadah, dan aku pantas mendapatkannya” aku sedikit memberanikan diri, mungkin dengan meyebut jasaku orang ini akan memberi tahu kemanakah tujuan pulangku seharusnya.
                “Aku!!! Aku!!!Aku!!!di otakmu hanya ada aku!!!dan sempurnalah sudah kesombonganmu! Air ikhlas dan tujuan pulangmu tak akan pernah kau temukan hingga kau menangis darah dan terperosok pada ujung dunia sekalipun!mengerti?! sekarang kau enyahlah dari pandangan kami, kau tak pantas ada disini! Kau salah tujuan pulang! jika kau sudah menenggak air ikhlas, niscaya tujuan pulangmu bukan dua hal yang kau sebut tadi!”
                “Apa…” belum selesai aku bicara, tiba-tiba semua orang di dalam bus mengangkat tubuhku, bus berhenti, dan tubuhku dilempar keluar. Apa yang terjadi? Akupun tak mengerti. Aku bangkit dengan masih tak mengerti apa yang sedang terjadi. Begitu singkat dan mengejutkan. Seluruh pakaianku terbasuh debu, lusuh dan berkeringat.
                “Salah pulang…?” gumamku, tetap tak mengerti akan kejadian yang begitu mengejutkan tadi. “Lalu aku harus pulang kemana? Bukankah penghargaan dan kasih sayang adalah segalanya, bukankah semua orang melakukan segalanya agar dapat dihargai dan lebih disayangi, bukankah itu hal yang wajar? Apa yang sudah kulakukan sudahpun cukup untuk mendapatkannya. Tapi kenapa aku dimarahi sejadi-jadinya tadi?”
                Berjalan gontai dengan pertanyaan menggantung di kepala. Sekarang aku mencoba merubah arah pulang. Aku bertanya pada angin, kemana aku harus pulang? Ia tak menjawab, mungkin begitu sibuk bergerak hingga tak dengarkan pertanyaanku. Lalu kutanyakan pada langit, ia pun tak menjawab, mungkin begitu jauhnya jarakku dengannya hingga ia tak dapat mendengar. Lalu harus pada siapa aku bertanya, aku terduduk pada tanah, dan mencoba bertanya padanya.
                “tahukah kau kemana aku akan pulang?” aku menunduk dan mendekatkan wajahku padanya agar ia dapat mendengarku.
                “tentu saja…” ia menjawab dengan dingin dan tanpa tambahan kata.
                “maukah kau memberi tahu padaku kemana aku akan pulang?” tanyaku dengan sedikit cemas, karena khawatir diperlakukan sama ketika tadi di bus.
                “manusia selalu bertanya dan kemudian lupa” dia menjawab dan menoleh ke arahku pun tidak.
                “apa maksudmu? Aku tak mengerti” tanyaku agar ia dapat menjelaskan maksudnya.
                “…dan manusia sering bertanya hanya untuk berpura-pura saja” dia melanjutkan jawabannya dan tetap saja aku tak mengerti.
                “mmm…maaf tapi aku tetap tak mengerti apa maksudmu?bisakah kau jelaskan padaku?” aku sedikit merayu agar aku tahu kemana tujuan pulangku.
                “tak tahukah kau kemana tujuan pulangmu?” ia kembali bertanya padaku yang masih saja kebingungan dengan dialog ini. Rumit dan tak mudah aku cerna, mungkin karena teriknya matahari belum juga mendinginkan otakku.
                “Karena itulah aku bertanya padamu. Jika kau tahu, aku akan memberikan seluruh apa yang ada padaku untukmu” aku kembali merayunya agar ia dapat mengatakan kemana  tujuan pulangku.
                “Tak perlu, kau tak miliki sesuatu apapun untuk kau berikan padaku” ucapnya dengan membuang muka dan tersenyum kecut.
                “Baiklah, sekarang maukah kau katakan padaku kemana tujuan pulangku?” aku masih saja merayunya, dan nampaknya ia akan menyebutkannya sekejap lagi.
                “Tempat pulangmu tak jauh darimu, tempatmu berpijak yang tengah kau ajak bicara saat ini, kau mengerti? Ah…kau pasti akan berkata mengerti dengan kesombonganmu. Telah lama aku menyaksikan tingkah lakumu di atas pijakanmu. Sudahlah, aku bosan bicara padamu.” Tanah berhenti bicara, membisu, dan kaku.
                Aku termenung, alam terasa berhenti dari geraknya. Aku diam, tak dapat berkata,berkali-kali aku mencari tujuan pulang, berkali-kali pula tujuanku berubah. Karena sejatinya aku tak mengerti kemanakah arahnya, karena aku tak sadari dimanakah pusaranya. Dan kini aku sadari sepenuhnya, bahwa “tanah”-lah tujuan pulangku seharusnya. []GP
”Selamat siang pak!”
”Selamat siang”
”Menggali kuburan siapa?”
”Oh ini, ada yang meninggal satu jam yang lalu”
”Di sebelahnya akan digali kuburan juga?”
”Ah, belum tahu lah. Biasanya jika ada yang meninggal pihak keluarga langsung menghubungi. Tapi untuk hari ini, hanya satu orang saja yang meminta untuk menggali”
”Boleh saya bantu bapak menggali di sebelah”
”Untuk siapa? Ada keluargamu yang meninggal?”
”Ah, tidak! Siapa tahu nanti akan ada yang meninggal lagi, toh bapak tak perlu repot untuk menggali kuburan sendirian, ya kan?”
”Ya, boleh lah...kamu ini aneh! Mau saja membantu menggali kuburan. Tapi tak apa lah. Terima kasih sebelumnya nak!”
”Bapak mau mati kapan?”
”Hah? Entahlah, mati itu di tangan Tuhan, ada-ada saja kamu!”
”Aku ingin mati cepat saja?”
”Kenapa?”
”Karena tak mengerti”
”Lho..? Arti itu harus di cari, tapi mati akan datang sendiri”
”Pak, Tuhan mati tidak?”
”Yang mati itu otak kamu!”
”Aku ingin bertemu Dia”
”Yakin Dia mau bertemu denganmu? Ha..ha..ha..”
”Ah ya, aku tunggu Dia memanggilku saja”
”Ya begitu lebih baik, bersiaplah!”
”Apa?”
”Bersiaplah!...”
***
Teruntuk bapak tua penggali kuburan...
Aku berjalan di pelataran sunyi. Sendiri. Tak tahu akan kemana, ikuti saja kaki melangkah. Walau sebenarnya itu sulit, kakiku ini tentunya harus menerima perintah dari otak untuk dapat berjalan, dan otakku harus berpikir kemana aku akan melangkah. Jadi apakah sebenarnya mungkin, membiarkan kaki melangkah dengan tanpa memikirkan apa yang harus kita putuskan?
            Tapi sudahlah toh saat ini aku masih tetap berjalan dan lagi-lagi masih tetap sendiri. Aku bingung. Entah apa pula definisi dari ‘bingung’. Aku hanya merasa bahwa aku tak tahu harus bagaimana, tak tahu harus berkata apa, dan tak tahu harus putuskan apa. Intinya ‘aku tak tahu’.
            Entah mengapa aku putuskan berjalan ke tempat ini. Tak lazim. Seorang diri berjalan di pemakaman tanpa tak tahu apa yang akan dilakukan, benar-benar gila aku ini. Sayup-sayup kudengar lantunan ayat suci, seorang pemuda berpakaian hitam-hitam dan berpeci tengah membaca Al-Quran di sisi kuburan yang nampaknya masih basah. Orang itu dibayar, tentunya oleh keluarga si empunya pusara, untuk mengirim pahala katanya. Aku tak pernah percaya, orang yang meninggal telah terputus segala amalnya, itu yang kuyakini. Jika ingin banyak pahala kenapa tidak berburu amal ketika napas masih leluasa. Manusia...ada-ada saja!
            Aku kembali berjalan, seolah hanya ada aku disana. Tak ada siapapun perhatikan aku. Kuperhatikan satu persatu pusara di hadapku, berbagai nama terpampang pada nisan. Pusara mereka bermacam-macam, ada yang berlapis marmer, ditanami rumput, ataupun hanya gundukan tanah merah saja.
            Manusia, hingga matinya saja masih tak mau meninggalkan kesombongan. Menghias tempat pembaringan terakhir, padahal jasadnya akan hancur oleh cacing tanah. Jika nanti aku mati, aku tak mau pusaraku di apa-apakan. Biarkan saja hanya gundukan tanah, dan tandai dengan batu. Tak usah diukir namaku di sana, karena aku ingin menyatu dengan tanah. Di mana awal dan akhirku dari sana. Toh, orang akan mengenang namaku saja. Aku juga ingin dikuburkan di bawah pohon kamboja, agar bunganya jatuh dan menghias tanahku yang kumal. Membasuh setiap legam yang kubawa mati.
            Aku hanya dapat berharap untuk waktu yang akan datang, menikmati masa kini dan mempelajari saat yang telah lalu. Bagai tak banyak yang telah kuperbuat. Semua mengasap tak tahu dibawa siapa, dan terus akan begini, hingga akhirnya aku tahu, apa itu yang disebut ’mati’.
            Dunia ini tak dapat ku mengerti. Hanya satu aku yang mengerti, yaitu diriku sendiri. Dunia terlalu lelah untuk mengerti, bahwa manusia tak selalu makhluk dewasa dengan akalnya, tapi juga bocah dengan ingusannya mengumbar nafsu, memburu yang tak perlu ditunggu. Otak dijejali sudut pandang siapa. Tak punya pendirian, hanya punya ekor untuk dibuntuti setiap saat.
            Picik! Memandang sebelah, padahal tak punya mata. Bersungut-sungut padahal tak bermulut. Seharusnya tak usah menipu diri, karena belati tak di bawa mati. Hidup yang panjang tak usah dibanggakan, karena tak akan berarti jika menabur duri. Lelah membelalak mata, tak jua peluh jatuh dan sirna.
            Kau tahu apa itu menderita? Karena tak makan, tak punya teman atau tak dapatkan berlian? Ha..ha..ha..salah besar! Menderita adalah jika kau tak punya hati, untuk berbagi, untuk memberi, atau untuk mengerti. Tak punya hati, mati sajalah! Pergi bersama  lalat dan cacing, pergi dengan benci dari seluruh bumi!
            Jangan kau seperti itu, jangan menyesali apa yang telah terjadi. Waktumu habis nanti, memikirkan hal tak penting yang takkan dibawa mati. Pikirkan nanti, dimana kau kembali dari perjalanan ini. Kau akan bercerita, di hadapan Tuhan dan malaikatNya, bahwa kau bukan seorang pencuri. Aku telah lakukan banyak hal, agar Tuhan mau mengundang dan bertemu denganku. Bersiap agar bila saatnya tiba tak lagi ada sesal. Semoga...
***
            Penggali kuburan itu duduk di bawah pohon kamboja di depan pusara, melepas peluh setelah mengubur, ya..hanya mengubur dan tanpa menggali. Diam dan berpikir, kemarin seorang pemuda membantunya menggali kuburan, dan hari ini seorang tak dikenal meninggal. Jenazah yang tadi ia kuburkan memang tak bernama dan tanpa pengantar dari pihak keluarga. Jenazah hanya diantar oleh pegawai rumah sakit, korban tabrak lari katanya. Setelah beberapa lama tak ada keluarga yang mencari, akhirnya jenazah dikuburkan saja. ”Sayang aku tak sempat melihat wajahnya”, pikir bapak tua. Tak berapa lama, ia teringat sepucuk surat yang ditemukannya di dalam keranda dan mulai membacanya perlahan.
            Angin terhenti, senja bersinar nanar. Semburat warnanya tetap hampa. Bapak tua masih duduk di depan pusara. Pusara tanpa nama dengan kamboja di atasnya. Hari telah senja, dan cerita sampai sini adanya. Sepucuk surat yang ditemukan dalam keranda tetap di genggaman, bertulis ’ teruntuk bapak tua penggali kuburan’. Dia bercerita sebelum pergi ke sana, dan akhirnya tahu di mana ’mati’ berada.[]

             
            Seorang ibu terduduk di beranda, menatap hampa pada pagi sunyi yang mati. Teringat pada anaknya yang entah dimana, ia pun melantunkan lagu hati yang ia mainkan dari dasar jiwa yang tak pernah diketahui. Lagu mengalun, menyayat, dan membisukan alam dengan segala geraknya. Sunyi...tak ada yang berani angkat bicara, angin pun tidak!
            ”Anakku tak tahu jalan pulang” katanya parau, matanya sudah pun basah oleh airmata. Kebingungan meraja dari sela-sela keriput wajahnya yang telah pasi. Kematian sejenak diam, kasihan oleh tua yang tak disangga. Tapi sang anak tak kunjung tiba. Mata tetap memandang, kaki tetap berdiri, dan jiwa tetap menanti.
            Ibu tua tetap berharap dengan harapan yang tak tahu dimana kan bertepi. Ia bicara pada angin, agar tetap menuntun jalan anaknya hingga sampai di pangkuan. Namun entahlah, sepertinya tak ada harapan. Ibu tua hanya berdiri, dan akan terus berdiri hingga anaknya kembali.
            Angin berbisik padanya, bahwa sang anak sangat jauh sekali, entah sampai entah tidak. Tapi ia sedang dalam perjalanannya yang payah kemari. Ibu tua tersenyum, menunjukan keteguhan dalam penantian. Ia tak mau beranjak sedikitpun, yakin dan percaya, itu yang ia punya. Hari semakin gelap, anaknya tak kunjung tiba. Alam khawatir, ibu tua tak peduli, dan sang anak entah ada dimana. Tak ada suara, hanya desah napas harap yang menguap dibawa senja.
”Anakku bukan durhaka, hanya tak tahu jalan pulang, andai dapat kuhampiri ia disana, maka akan kubawa ia ke rumah-nya” entah bicara pada siapa, ibu tua tak peduli. Tiba-tiba air mata jatuh, tapi raut wajahnya tak berubah. ”Tuhan...aku takkan menyerah!” kata-katanya begitu kuat, tak ada haru disana.
Berhari-hari ibu tua tak beranjak, ia tak nampak seperti biasa. Tak ada yang dilakukannya kecuali diam. Penantian yang sia-sia, tapi tidak menurutnya. Angin, tanah, mentari dan semesta mencoba menggoyahkan, tapi ia tetap tak bergeming. Keyakinan bahwa anaknya akan datang tak menyurutkan semangatnya.
Sementara di tempat lain, anak dari ibu tua itu kebingungan. Bingung dengan kemana ia harus melangkah. Nun jauh disana sang ibu tengah menunggunya dan ia tahu itu. Di tengah lelah, letih dan hilangnya harapan, sang angin menghampirinya dan berseru ”Ah, akhirnya kutemukan juga kau! Ayo lekas! Ibumu hampir mati menunggumu” anak itu tak bergeming, matanya sudahpun kelelahan untuk sekedar mengerjap. ”Hei! Bangun! Ibumu menunggu!” angin lagi-lagi menyeru.
            ”Aku sudah pun tak kuasa lagi berjalan, katakan pada ibuku aku menyayanginnya” dengan sisa tenaganya anak ibu tua itu mengangkat bicara. ”Tapi kau harus kuat berjalan, ibumu menunggu!” angin mencoba menguatkan si anak agar dia dapat kembali berjalan. ”Aku tak kuasa berjalan, apa yang harus kulakukan?”. Hening, angin berhenti mendesau, mungkin kebingungan dengan apa yang harus dilakukannya.
            Karena tak jua menjawab, angin meninggalkan anak itu seorang diri meluncur dan meliuk menuju sang ibu yang masih saja berdiri. Enggan langkah dalam hati yang tak kuasa menyampaikan berita. ”Ibu tua menyerahlah,..” angin mencoba menggoyahkannya. Ibu tua terdiam, tak berniat  menyerah. ”Ibu tua menyerahlah, anakmu tak akan mungkin sampai padamu, ia dengan lelahnya tak mampu lagi berdiri, mengerjap pun ia tak kuasa, menyerahlah, relakan ia...”. lagi-lagi tak ada jawaban, ia hanya terdiam mengunci mulutnya rapat-rapat, menatap tajam pada siapa yang mengajaknya bicara seolah ingin berkata bahwa tak ada siapa yang dapat menggoyahkannya. ” ibu tua, aku sudah pun tak tahu lagi apa yang harus kulakukan, entah padamu, entah pada anakmu, ia hanya menyatakan bahwa ia menyayangimu. Dan sekarang terserahlah padamu saja, cukup katakan apa yang harus kulakukan pada anakmu aku sudah tak tahu lagi harus bagaimana”. Ibu tua mengangkat kepalanya, menarik napas panjang dan berkata dengan mantap ”berikan nyawaku untuknya!”.[]GP

Medio april 2009
Sebuah persembahan untuk hari lahir ibuku
Pada siapa lagi aku dapat percaya? Aku tak tahu. Sudahlah, biarkan saja begini adanya. Kau bingung, akupun bingung. Kita terjebak dalam lautan peristiwa yang membuat kita biasa. Ketika tiba saatnya badai datang, kita pun tertunduk tak tahu harus bagaimana. Karena kita memang dilahirkan biasa. Kita takut mentari, kita takut hujan, bahkan kita takut tertawa. Padahal dunia ini tidak mati. Kita datang untuk kemudian pergi. Tapi kita tak menyadari bahwa biasa itu karena  diam yang tak akan memberi arti.
***
            Menurut berita yang kudengar akhir-akhir ini, dunia telah berubah dari wujudnya yang asli. Semua berubah menjadi parade sandiwara kolosal yang dilakukan oleh seluruh umat manusia di belahan bumi, siapapun dan dalam keadaan apapun tak dapat menghindar dari memainkan lakonannya. Aku tak pernah keluar untuk mengetahuinya karena takut ’terlalu jujur’, walau sebenarnya akupun telah tak tahu lagi bagaimana bentuk kejujuran. Aku tak ingin berbicara dengan siapapun, hidupku hanya di dalam kotak ini dan entah sampai kapan, mungkin sampai ada manusia yang dapat berkata jujur, dengan kejujuran yang aku sendiripun tak tahu ukurannya.
            Pagi ini indah sekali, mentari memancarkan sapaan hangatnya, segar dan tentunya tanpa sandiwara. Hanya alam semesta yang tak pernah berdusta dan selalu apa adanya. Derit pagar yang melapuk mengaburkan lamunanku. Seorang penjual koran masuk ke muka halaman dan melemparkan koran tepat di depan pintu rumah. Aku mengambil koran dan melambaikan tangan tanda terima kasih padanya. Mungkin ia melihatku aneh, terkadang tergoda pula untuk sekedar berbincang dengannya, tapi lagi-lagi aku tak mau didustai.
 Sang penjual koran pergi menjauh dengan sepeda yang dikayuh, walau aku tak tahu namanya namun aku akan selalu ingat pada setiap pagi yang ia warnai dengan kehadirannya. Empat koran pagi sudah di tangan, aku harus menunggu tiga koran pada pukul sembilan dan dua koran pada pukul sepuluh. Semua berjumlah sembilan koran yang harus kubaca setiap pagi, jika tidak begitu aku akan termakan berita-berita busuk yang lagi-lagi penuh kedustaan. Dengan membaca banyak koran setidaknya tersaring berita mana saja yang memang benar-benar terjadi, karena tak mungkin orang banyak bersepakat untuk berdusta. Tapi itu hanya pikiranku saja, pada kenyataannya aku tak tahu benar tidaknya.
            Seperti biasa, semua koran bercerita mengenai kehidupan di luar sana. Tapi lagi-lagi aku tak dapat memastikan kebenarannya. Entah sejak kapan aku berpikir seperti ini, yang pasti akupun tak punya teori pasti untuk memastikan semua. Sejenak aku termenung, merenungi semua yang aku  yakini selama ini. ”Manusia memang selalu memakai topeng-topeng untuk tetap dipandang sebagai orang baik”.
            Dulu pernah aku merasakan bahwa di dunia ini masih ada orang yang mau berkata jujur. Suatu saat dimana kejujuran tak ditertawakan atau bahkan dilawan untuk dimatikan. Dunia berjalan dengan sempurna, tak ada cacat, tak ada curiga. Namun perlahan-lahan semua berubah
            Begini ceritanya, konon dahulu semua manusia hidup damai dan tentunya penuh kejujuran. Tak ada seorang pun manusia yang berani sedikit saja berbohong atau mereka-reka fakta. Lalu tiba-tiba datanglah seorang raksasa besar yang menipu semua manusia agar meminum air ’dusta’. Warnanya jernih, adanya di kaki langit. Manusia diiming-imingi akan kaya, akan cantik, akan awet muda, bahkan akan bisa menguasai dunia. Semua orang berbondong-bondong menuju mata air tersebut. Meminumnya tak henti-henti, membawanya pulang untuk keluarga dan kerabat dekat agar semua dapat merasakan manfaatnya. Betul saja, yang mengharap cantik menjadi lebih cantik, yang mengharap kaya menjadi lebih kaya, dan yang mengharap mendapat kuasa menjadi semakin berjaya
            Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, hal tersebut bertahan. Namun, hal tersebut sejalan dengan kejujuran yang semakin menghilang. Mula-mula hanya kebohongan kecil, tapi lama kelamaan menjadi kebohongan besar yang bahkan dapat mencelakakan orang lain. Manusia pun tak mengerti apa yang terjadi, tak ada yang dapat menjelaskan semua ini.
Sang raksasa tertawa keras? Sekeras-kerasnya hingga semua manusia keluar melihat betapa raksasa tersebut buruk rupa, ia tak punya telinga hanya ada mulut saja di wajahnya. Semua manusia dibuat merinding melihatnya. Tertawanya keras sekali, hingga semua ingin menutup telinga. Tapi alangkah kagetnya mereka, ketika mendapati bahwa telinga mereka seketika menghilang. Tapi suara raksasa itu tetap terdengar, lalu ia berkata ”Sekarang kalian hanya dapat mendengar suaraku, suara kedustaan. Jangan harap kalian akan mendapat kejujuran kembali. Semua lenyap, kecuali jika kalian tak pernah meminum air dusta di kaki langit. Ha...ha..ha..”.
            Semua manusia kebingungan, tak tahu harus merasa bagaimana. Mereka tak mau seperti ini, ada nurani yang menolak mereka melakukan ini. Tapi setelah beberapa saat mereka pun terbiasa, terbiasa dengan kebohongan. Hingga jika ada yang berkata jujur, mereka akan memperlakukan sebagaimana ada yang berkata sebaliknya. Setelah kejadian tersebut, pengadilan dihapuskan di seluruh dunia. Karena akan sulit menimbang sebuah kasus benar atau tidak adanya, atau jujur tidaknya seorang saksi. Intinya, dunia hampir berada di ambang kehancuran tak ada pengaturan, tak ada hukum, tak ada sanksi, tak ada lagi yang dapat dipercaya.
            Semakin lama manusia tak lagi mempercayai pada masing-masing rekannya, menuding saudara dan keluarga sendiri, menjatuhkan pemimpin karena dituduh meingkari janji. Semakin kacau dan semakin runyam saja ceritanya. Tak ada lagi kata percaya, kata itu dibawa serta oleh si raksasa buruk rupa yang tak bertelinga tadi. Setelah itu raksasa pergi entah kemana bahkan telaga air ’dusta’ pun menghilang dibawanya.
            Terkadang rasa nelangsa yang hebat melanda, tak ada yang dapat kulakukan selain menikmati sendiriku. Aku tak mampu lagi menjalani hidup yang tak dapat kumengerti ini, semua hanya bagaikan mengejar satu tujuan atas dasar kepentingan.  Lelah juga memang memperhatikan dunia ini, tapi apa mau dikata beginilah adanya. Alhasil aku ini yang mengklaim diri jujur harus mengurung diri, karena takut begitu jujur menghadapi dunia ini.
            Tapi terkadang kondisi ini membuatku ingin tertawa. Pernah satu waktu aku memperhatikan dua orang tengah bercerita di depan rumahku. Entah sengaja entah tidak mereka lama berdiri dan kemudian bercerita. Seorang rekannya menceritakan mengenai musibah yang dialami keluarganya, rekannya yang satu lagi menyimaknya dengan tanpa berkomentar. Namun yang mengejutkan adalah ketika orang itu selesai menceritakan ceritanya, rekan yang mendengarkan ceritanya mengernyitkan dahi lalu berkata ”Ini cerita yang sebenarnya atau sebaliknya?”. Keduanya saling berpandangan, bingung, dan kemudian kembali berjalan. Setelah itu aku tak tahu lagi bagaimana.
            Selama ini aku tinggal sendiri, semua orang yang kukasihi pergi satu persatu entah mencari kejujuran yang hilang atau termakan bujuk rayu sang raksasa.
Begitulah kira-kira ceritanya, percaya tidak? Mungkin sebuah kepercayaan juga harus dibayar mahal saat ini. Tapi tentu saja jangan percaya dengan semua ini, karena hingga saat ini, aku masih tak dapat percaya dan menerima bahwa aku pun tak punya telinga.[]GP



                Betapa Allah Maha Besar dan Maha Kuasa untuk menunjukan segala kebesaranNya di setiap ciptaanNya. Benarlah bahwa tak ada satupun di muka bumi ini yang dijadikanNya sia-sia, bahkan sebuah keletihan pun amat sangat berharga ketika kita memaknainya dengan berbeda. Ini pengalaman pribadi yang saya rasakan sendiri. Beberapa kali mendaki puncak gunung, biasanya ada pemandangan kontras di akhir pendakian yaitu sebuah bunga (biasanya tidak dalam jumlah yang banyak) indah dengan warna tak biasa yang cukup menarik perhatian.
                Jalanan mendaki tentu sukar dan sulit untuk dilalui, lelah dan letih sudah tak dapat dihindari. Namun tentu hasil yang didapat akan sebanding dengan upaya yang dilakukan. Bunga di bawah bukannya tak ada, tentu ada dan bervariasi jenisnya. Namun alangkah lebih indah jika bunga tersebut kita lihat dengan melalui proses yang amat melelahkan. Jalan terjal berliku dan resiko terjatuh tentu harus dihadapi dengan pantang menyerah. Tentunya Allah ingin memberikan reward atas segala kepayahan yang kita rasakan dalam menjalani jalan yang sukar dan sulit ditempuh.
                Di dalam kehidupan mungkin telah berulang kali kita merasa tak sanggup lagi menjalani sebuah proses menuju kesempurnaan. Berkali-kali terjatuh, berkali-kali menyungkur, berkali-kali rintangan hampir saja menghentikan langkah kita, namun tentu ketika semua terjalani dan berakhir, yang ada hanyalah senyum kepuasan dan airmata haru karena kita telah melewatinya.
                Maka mulai saat ini, jangan pikirkan berapa kali kita terjatuh, namun fokuslah pada setiap langkah yang kita lalui. Kerahkan segala daya dan upaya untuk satu langkah dan langkah-langkah berikutnya. Dan yakinlah KITA PASTI BISA!!!
                 
“Kau kemana saja?”
“Aku ada di sini, seperti biasa menunggumu mendatangiku agar kita dapat menunggu pagi”
“Kemarin kau tidak datang, kau tak seperti yang kukira!”
“Ayolah… ini tak seperti yang kau bayangkan, kau harus terbiasa dengan ini. Tentunya aku tak akan selalu dapat menemanimu”
“mengapa?”
“Karena aku hanya menemanimu sesaat”

Aku tak mengerti. Aku diam mendengar kata-katanya. Aku tak suka ini. Tidak jelas. Aku harus memutar otak untuk mengerti perkataannya. Nihil. Aku tetap tak mengerti.

“Mengapa kau diam?”
“Karena aku tak suka kau berkata begitu”
“Kalau begitu pergilah!”
“Apa?”
“Ya, pergilah! Jika kau sudah menjadi “aku” maka pergilah! Tak ada gunanya aku bicara denganmu!”

Sepertinya dia bukan dari dunia nyata. Ya tentu saja, karena aku tengah bermimpi. Aku diam, lagi-lagi tak mengerti.

“Apa yang kau inginkan?” Aku bertanya padanya
“Tak ada”
“Tidak mungkin!”
“Mungkin saja, baiklah aku hanya ingin menunggu pagi”
“untuk apa?”
“agar aku dapat terbangun”
“ itu hal yang biasa terjadi, katakan yang lain!”
“Aku hanya ingin itu”

Kali ini dia tertunduk. Mendalam, dan menangis. Lagi-lagi aku tak mengerti.
“Pagi itu menyenangkan. Dia segar dan alami. Aku ingin kembali padanya, memeluknya erat dan tak lagi menyia-nyiakannya. Pagi adalah semangat dan keindahan yang tak direka-reka”

Dia menarik napas panjang. Menghirupnya lekat-lekat dan kembali pandangannya menerawang.
“Setiap orang pasti akan menemui pagi, ini tidak istimewa!”
“Kau akan tahu bagaimana sakitnya ditinggal pagi, jika kau rasakan itu jangan datang padaku lagi!”

Aku terhenyak, mengucek-ngucek mata dan menarik napas berat. Kepalaku pening serasa baru saja naik komedi putar di pasar malam. Aku tatap jam di dinding, pukul sebelas lebih lima belas. Prestasi bagiku, biasanya aku baru bangun pukul dua belas. Ini hal yang wajar, aku tak tidur semalaman. Apa yang kukerjakan? Tak ada, paling-paling hanya menonton, mengobrol ataupun melakukan hal-hal yang tidak jelas. Tak jelas seperti melamun, membongkar radioku yang sebenarnya tidak rusak –dan akhirnya tak dapat kupasang kembali-,atau terkadang hanya mondar-mandir tak karuan. 
Aku berjalan gontai menghampiri sebuah meja di sudut kamar. Kakinya sudah rapuh dimakan rayap, kutendang sedikit saja pasti patah. Diatasnya hanya ada sebuah termos, bungkus-bungkus kopi sachet, dan tumpahan air disana-sini. Masih ada kopi sisa semalam dalam gelasku. Aku reguk. Dingin dan rasanya aneh, sudak tidak terasa seperti kopi. Seperti agak asam-nampak bukan kopinya tapi mulutku saja yang masih penuh iler-
Tiba-tiba aku termenung memikirkan mimpi tadi, lebih tepatnya tadi pagi. Baru kusadari bahwa aku memang tak pernah nikmati pagi, waktu itu selalu kugunakan untuk bermimpi. Terakhir aku bangun pagi ketika..,bahkan aku lupa kapan aku bangun pagi. Mungkin besok, ya besok aku akan bangun pagi! Semoga.
*
“Kau sudah menemui pagi?” ‘dia’ dalam mimpiku kembali menghampiri
“Belum” jawabku
“Kau masih tak percaya padaku?”
“Aku sempat memikirkannya, aku akan melakukannya pagi ini”
“Lakukanlah sebelum terlambat”
“Apa maksudmu?”
“Pagi akan sulit kau temui jika sekali saja kau pergi”
“Aku tak percaya”
“Lihatlah dirimu, kapan kau terakhir bertemu pagi?”
Lagi-lagi aku diam. Menunduk. Benar, jujur saja akupun telah lupa kapan terakhir aku menemui pagi.
“Kalau begitu tunjukan padaku sekarang bagaimana pagi itu!”
“Berjalanlah, kau akan menemuinya di ujung sana. Berjalanlah terus!”
Aku mengikuti kata-katanya, berjalan perlahan. Tak ada suara. Tak ada warna. Tiba-tiba aku melihat sungai biru membentang di hadapan. Beralas pasir pantai dengan dangkal yang menerawang. Aku berjalan hati-hati, agar tak goyahkan airnya yang bisu.
Di hadapan kulihat padang luas, tanpa rumput tanpa tanah, hanya bagai ruang di bawah langit. Apakah ini pagi? Kali ini semua penuh cahaya dan warna. Benar-benar mengagumkan. Aku berteriak dan berjingkrak. Aku bahagia, dan tak pernah merasakan ini sebelumnya. Jika aku tahu seperti ini, setiap hari aku akan bangun pagi.
Aku tak dapat berkata-kata, aku bahagia. Aku tahu ini mimpi. Tapi tak mengapa, asal aku dapat bahagia walau sesaatpun tak apa.
Namun, tiba-tiba semua lenyap. Kembali gelap, tak ada suara, tak ada warna. Aku bingung. Aku mencari namun tak jua kutemui. Aku diam, aku ingin bangun dari mimpi ini. Bagaimana caranya, selama ini aku tiba-tiba saja terbangun dan ada dalam hidupku sendiri. Kali ini, aku benar-bernar tak tahu harus berbuat apa.

“Hei kau yang tadi bicara padaku, kemarilah! Aku ingin bangun dari mimpi ini”
Tak ada suara, hanya ada suaraku yang menggema-gema. Aku mulai takut. Menggigil. Aku terjatuh, setelah sekian lama berlari mencari ujung dari mimpi ini. Tak ada jawaban. Aku menangis. Aku ingin pulang …[]GP

Negeri Tandus, 04 Juli 2007


                Hari-hari di dunia begitu berat untuk dijalani. Banyak sekali yang diurus namun akhirnya tak terurus, otak dan pikiran dijejali berbagai macam ragam kerja demi melakukan satu harga mati dalam hidup; rutinitas. Menyerahkah pada semua itu? Tentu saja tidak, semuanya bergantung bagaimana cara memandang dan menyiasati saja. “Aku”, “dia”, dan “dirinya” pun merasakan hal serupa. Kami lelah dan bosan, hampir saja mati kreatifitas dan tumpul analisa, benar-benar mengenaskan. Kami butuh sesuatu yang baru, di luar rutinitas dan kebiasaan yang selama ini berlaku. Lalu kami putuskan, kami akan berjalan. Ya, berjalan saja, entah kemana, hanya berjalan saja.
                Keluar dari kebiasaan kami rubah definisi “rencana”. Tak ada rencana, tak ada jadwal, kami jalani saja apa yang kami inginkan, untuk berjalan tentu saja, dimulai hari ini, ya, hari ini. Siapa yang merencanakan? Bukan kami tentu, seperti yang aku katakan tadi, kami sudah merubah definisi “rencana” saat ini.
                Di bawah terik yang menjerang aku berjalan, panas sekali. Manusia memang kurang ajar merusak bumi ini, hingga akhirnya bumi pun betul-betul marah. Seperti siang ini, ia marah dengan memuntahkan panasnya yang tak hingga di ubun-ubun. Tak apalah, toh “aku” juga manusia, “aku” juga bersalah jika “aku” diam saja.  
Berharap temukan “dia” di pusat rutinitas aku terus melangkah. Dan benar saja, “dia” tertunduk dalam dan hampir tenggelam. Wajahnya kusam, rutinitas mengecewakannya. “waktu tak berpihak padaku, hampir saja aku dapat sukses dalam rutinitas hari ini. Namun, karena terlambat sedikit saja, ia enggan menoleh padaku” ungkapnya lirih, kecewa tentu saja. “Dia” telah merencanakan hari ini dengan begitu sempurna, mengukur berapa lama berjalan, dan saja yang harus dilakukan. Namun begitulah rutinitas, membunuh korbannya pelan-pelan dengan rasa bosan dan putus asa jika ia berubah sedikit saja.
                “Sudahlah, ayo!” ucapku seraya menarik tangannya, inginku membawanya pergi jauh dari sang penjahat bernama “rutinitas”, menyelamatkannya dari rasa bosan dan melindunginnya dari putus asa.
                “kemana?” ucapnya penuh tanya.
                “berjalan!” jawabku dengan satu kata yang memungkas pembicaraan kami.
                Senyum “dia” mengembang, entah apa artinya. Lalu kami bicara, bicara yang banyak  sekali tak henti-henti. Berjalan saja ikuti kemana langkah kaki dan biarkan ia menyampaikan kami kemanapun inginnya ia pergi. Berbagai cerita silih berganti, “Aku” bercerita tentang langit lazuari, indah dan bijaksana. Dalam siang yang begitu benderang ia adalah peneduh dari sinar mentari yang terlalu congkak bersinar. Kunyatakan indahnya pada “Dia” dan kuyakinkan indahnya bukan impian. Ia mengangguk-angguk dan tersenyum, sesekali menatap langit pula bersamaku, dan dia setuju pada ceritaku adapun “Aku” tentunya senang bukan kepalang.
Lalu berganti “Dia” bercerita tentang malam, pekat namun elegan berbinar disiram cahaya purnama, ”oh…tak tertanding indahnya” ungkapnya. Aku mengangguk juga, mendengarkan dengan seksama setiap kata-kata yang “Dia” ucapkan. Dari sorot matanya dapat kulihat “Dia” begitu mengenal malam berpurnama itu. Dan kami lagi-lagi terkagum-kagum pada alam semesta raya, diciptakan olehNya tentu saja.
                Masih berjalan dan terus berjalan, bersama angin yang bermain-main manja riang tak terkira. Sesekali senyum dan gelak tawa menghambur ke udara, disampaikan angin pada langit dan purnama lalu diterbangkan melewati batas samudera. Indah tak terkira, dan sekejap saja kami sudah lupa dengan penat dan rutinitas yang sebelumnya menggantung di kepala. Kulihat senyum “Dia” mengembang indah, tak ada lagi kusam wajah yang kutemui tadi, “Dia” sudah mengalihkan kecewanya pada semua cerita bahagia yang ia ungkapkan padaku saat ini.
                Di tengah langkah kami bertemu “dirinya”, wajahnya tak kurang kusam dari “dia” ketika tadi kutemukan. Entah mengapa dan oleh siapa, mungkin juga “dirinya” telah menjadi korban “rutinitas” seperti “Dia”. Tak terlihat cahaya dan rona di wajahnya, aku turut berduka dan ingin membantunya. Lalu “Aku” dan “Dia” meraih tangannya, menggenggam erat dan menarik untuk mengajak.
“kemana?” “Dirinya” menatap kami dan bertanya, keheranan yang tak sedikitpun surut seketika.
“Berjalan” jawabku biasa sembari masih menarik tangannya.
Lalu “Dirinya” tersenyum, dan itu berarti ia setuju. Walaupun “Dirinya” tak tahu akan kemana kami melangkah namun mungkin pikirnya setidaknya ini lebih baik daripada berwajah kusam sendirian.
Kami kembali berjalan, kami yang telah berubah, dari hanya “Aku” dan “Dia”, menjadi “Aku”, “Dia”, dan “Dirinya”. Kami yang semakin semarak dalam berjalan. Aku yakin ini tak akan terlupakan
                “Dirinya” bercerita tentang gemintang. Sirius, Canopus, Bellatrix, Capella, dan sejumlah nama bintang lainnya meluncur deras dari mulutnya. Tak berhenti bicara, bahagia nampaknya, dan kepenatan pun semakin terlupa. Kami berjalan dan terus berjalan, siang berganti senja, lazuari pun larut dalam lautan jingga mega di angkasa.
Di hadapan air mancur Fontana kami duduk sejenak, menikmati nuansa yang indah luar biasa. Airnya ditempa cahaya senja, hingga bagai emas berkilauan memancar berundak-undak dan bermuara di kolam besar. Airnya jatuh anggun sekali, teratur rapi, terpecah, dan kemudian menyatu tenang dalam kolam besar di bawahnya. Pirro Ligorio tak salah jika menyebut ini sebagai karya terbaiknya. Angin sore berhembus lembut, menyeka peluh dan meluluhkan kelelahan. Tak ada satupun bicara, dengarkan suara alam semesta yang riuh rendah. Harmonisisasi yang belum pernah ada sebelumnya. Kami tersihir dengan keindahan senja yang menjelma.  Aku memejam mata, mencoba memotret semua yang tampak di hadapan, dalam relung hati terdalam.
Tiba-tiba sebuah rasa menyusup pelan dalam sisi sanubari yang hampir mati, rasa rindu yang benar-benar pilu. Belum saja kami berajak, namun rindu sudahpun menjelma meliputi dinding hatiku. Rindu akan keindahan yang luar biasa ini, rindu akan harmonisasi ini, dan rindu akan “dia” dan “dirinya” yang kini tengah duduk di sampingku. Dalam hati aku berbisik “aku tak akan melupakan perjalanan ini”.  
Kami beranjak, kembali berjalan, kembali bicara, kembali bercerita. Semua isi kepala kami rangkai menjadi kata-kata, kata menjadi kalimat, dan kalimat menjadi cerita. Cerita yang tak putus-putus, saling menyambung, saling menyambar, tak ada sepi, tak ada sunyi, kini semesta yang terdiam dan kami bicara. Malam mulai menjelma, kami tetap berjalan, bermandikan kristal cahaya malam yang jatuh bersinar. Cahayanya tak biasa, berpendar lembut namun terangnya luar biasa. Dimana-mana cahayanya, titik-titik yang mengagumkan indahnya, berpendar-pendar. Mataku tak kuasa menangkapnya satu-satu, terlalu berhamburan, namun terlalu indah untuk dilewatkan satu-satu.
Dalam perjalanan ini, duka kami menjadi suka, kecewa kami menjadi bahagia, dan  kami menelan itu semua bersama. Dalam perjalanan “Aku” berkata “ini tak boleh menjadi yang terakhir” ucapku pada “Dia” dan “Dirinya. Entah mengapa perjalanan ini meninggalkan kenangan yang begitu mendalam, membekas dan menyisakan berbagai rasa yang tumpah ruah tak tertampung dalam cawan hati. Kami kembali berjalan ditemani pendar-pendar kristal cahaya malam. Dalam hati kami berbisik pelan “akan berjalan lagi suatu saat nanti…”.[]GP2009

                Kejadian ini terjadi sekitar setahun yang lalu. Pagi itu sibuk sekali, seperti biasa saya mempersiapkan berbagai macam keperluan untuk segera berangkat kuliah. Kuliah pagi di awal minggu, tentu harus berangkat lebih awal mengingat kemacetan sudahpun pasti jika sedikit saja terlambat pergi. Suasana di rumah terasa lebih semarak dengan kehadiran dua orang keponakan yang kebetulan sedang menghabiskan masa libur semester. Faiz (5 tahun) dan kakaknya Ghazy (9 tahun) selalu menginap di rumah saya jika ada kesempatan.
                Pagi yang sibuk ditambah harus menyelesaikan tugas belum rampung dikerjakan sejak semalam, cukup memicu adrenaline. Keinginan untuk tak terlambat masuk kuliah dan keinginan menyelesaikan tugas dengan maksimal berkejaran untuk dipenuhi. Tiba-tiba si bungsu keponakan saya menghampiri dan berkata “ Ma’chi (Panggilan bibi) kalo udah kerjanya, ade mau main game ya…” faiz dan ghazy selayaknya kebanyakan anak lainnya tentu senang bermain game, terutama game house dengan beragam pilihan yang dapat dimainkan. Saya mengangguk saja sekenanya, karena masih terfokus pada layar laptop yang menampilkan tugas yang belum juga rampung. Lalu kembalilah si bungsu pada kakaknya yang tengah berada di meja makan untuk sarapan pagi.
                Tugas selesai, saya pun bergegas mandi dan mempersiapkan diri. Selepas itu saya bersiap pergi dan memasukkan semua barang yang saya perlukan termasuk laptop untuk dibawa serta di dalam ransel yang senantiasa menemani. Alangkah terkejutnya saya ketika tiba-tiba Faiz kembali menghampiri saya sambil berteriak “Ma’chi nakal!!!”. Saya terkejut dan berpikir tentang apa yang telah saya lakukan sehingga membuatnya marah. Lalu saya pun menghampiri faiz yang masih meraung-raung dalam tangisannya. Saya bertanya “ade kenapa?...”
Dengan sambil menangis Faiz menjawab “kan..tadi ma’chi janji, kalo dah selese ade boleh maen game…tapi laptopnya sekarang dibawa…hu..hu..”  
Faiz terus saja menangis dan saya termenung, saya ingat bahwa tadi menganggukkan kepala sebagai tanda setuju sebagai tanda bahwa dia boleh main setelah saya menyelesaikan tugas, tapi saya tidak mengira bahwa anggukan tersebut merupakan kontrak yang betul-betul kuat bagi seorang anak berusia 5 tahun. Saya diam termenung,betapa saya sudah menganggap sepele hal yang bagi orang lain besar, betapa saya tidak dapat menepati janji terhadap anak berusia 5 tahun, betapa saya terlalu ego dengan hanya memikirkan tugas saya dan tidak memikirkan hak orang lain (faiz) padahal saya telah menjanjikannya.
                Akhirnya Faiz diurusi oleh neneknya (mama saya) yang membujuknya agar berhenti menangis. Namun saya masih saja termenung, betapa saya yang mengklaim diri dewasa masih harus banyak belajar dari seorang Faiz yang berusia 5 tahun untuk mengerti bahwa janji tetaplah janji yang harus ditepati. Saya akhirnya menghampiri faiz, memandangi wajah mungilnya yang masih sembab, lalu saya mencium tangan dan pipinya lalu meminta maaf dan berjanji pulang cepat agar dia dapat bermain sepuasnya.
Dia tak menjawab, hanya terisak-isak dengan air mata masih meleleh di pipinya. Saya terpaksa berangkat karena jam kuliah semakin mendesak. Saya pergi dengan dada bergemuruh dan mata saya pun berkaca. Dan ternyata saya pun masih harus belajar banyak dari seorang faiz yang berusia 5 tahun…