Bagi saya, membaca tentang sejarah
seperti berjalan di lorong waktu dimana ingatan dan imajinasi dikondisikan
dalam sebuah masa bernama masa lalu. Ini sungguh menarik, merasakan betapa di
masa yang lampau, sungguh banyak hal yang seringkali tak terpikirkan terjadi.
Berangkat dari ketertarikan itu, beberapa hari ini saya rajin browsing segala
hal yang berkaitan dengan sejarah. Ada tiga topik yang dengan tekun sedang saya
baca, diantaranya adalah: Sejarah Peradaban Mesir Kuno, Sejarah Peradaban
Mesopotamia dan Sejarah Peradaban Islam. Kedepannya saya akan coba share hasil
perburuan bacaan-bacaan saya itu secara berkala.
Ketika membaca tentang Sejarah
Peradaban Mesir Kuno, perhatian saya tertuju pada seorang Ratu Mesir Kuno
anggota terakhir dinasti Ptolemeus yaitu : Kleopatra VII. Sebelumnya, saya
berpikir bahwa Kleopatra itu adalah sebuah nama yang dimiliki oleh satu orang saja.
Ternyata anggapan saya keliru, karena banyak Ratu Mesir lain yang juga
menggunakan nama Kleopatra. Namun, walaupun banyak yang menggunakan nama
tersebut, Kleopatra VII-lah yang dikenal secara umum dengan nama Kleopatra, dan
semua pendahulunya yang bernama sama hampir dilupakan orang.
Disini saya tidak akan memaparkan
deskripsi sejarah lengkap ketika Mesir ketika berada di bawah pimpinannya.
Kebanyakan topik mengenai Kleopatra sering dikaitkan dengan kekuatan
kecantikannya yang membuat takjub para pria. Bahkan dikisahkan Julius Caesar
dan Mark Anthony menjadi dua orang pembesar yang takluk dalam pelukan
Kleopatra. Namun, ada hal lain yang tidak banyak orang perhatikan. Sebagai
pemimpin besar yang pada akhirnya menguasai Mesir, jalan Kleopatra tak semulus
wajahnya.
Sejak kecil, kehidupan Kleopatra telah
biasa menghadapi berbagai konflik dan intrik. Persengketaan di lingkungan
keluarga bukanlah hal asing baginya. Di usia remajanya, Kleopatra harus
menyaksikan kejatuhan ayahnya sendiri yang pada saat itu memerintah Mesir
diakibatkan oleh beban utang yang tinggi. Adapun Kleopatra mengalami naik tahta
di usianya yang ke-delapan belas, cukup muda untuk seorang pemegang pimpinan
tertinggi. Kleopatra memimpin bersama adik yang juga suaminya Ptolemeus XIII
sebagai pemimpin gabungan. Dalam 3 tahun pertama kekuasaan, mereka mengalami
kondisi sulit karena permasalahan ekonomi, kelaparan, banjir sungai Nil dan
konflik politik.
Pada bulan Agustus tahun 51 SM, relasi
kepemimpinan Kleopatra dan Ptolemeus XIII rusak. Kleopatra menurunkan nama
Ptolemeus dari dokumen resmi dan wajahnya muncul sendiri di uang koin yang
berada diluar tradisi Ptolemaik yang menyatakan bahwa pemimpin wanita
dibawah pemimpin laki-laki. Kondisi ini
pada akhirnya membentuk kelompok rahasia di luar istana yang bermaksud
menurunkan Kleopatra dari kekuasaan dan menjadikan Ptolemeus sebagai pemimpin.
Pada akhirnya, Kleopatra terpaksa melarikan diri dari Mesir dengan meninggalkan
adiknya.
Ketika Kleopatra pergi dari Mesir,
Pompey yang merupakan pemimpin militer dan politik Republik Romawi tengah
melibatkan diri dalam perang saudara Romawi. Pada musim gugur tahun 48 SM,
Pompey melarikan diri dari pasukan Julius Caesar ke Alexandria dan mencari
suaka. Ptolemeus saat itu berusia 15 tahun dan menunggu kedatangannya. Pada
tanggal 28 September 48 SM, Pompey dibunuh oleh salah satu mantan opsirnya yang
sekarang bekerja untuk Ptolemaik. Ptolemeus berpikir bahwa dengan ia telah
memerintahkan kematian Pompey untuk menyenangkan Julius Caesar. Ternyata hal
ini merupakan kesalahan besar yang dilakukan oleh Ptolemeus. Ketika Caesar tiba
di Mesir dua hari kemudian, Ptolemeus memberikan kepala Pompey bermaksud
memberikan kabar gembira atas apa yang telah dilakukannya. Caesar yang melihat
hal ini sangat marah karena fakta bahwa walaupun Pompey adalah musuh politik
Caesar, namun ia pun merupakan konsul Roma dan duda dari anak Julis Caesar,
Julia. Caesar menguasai ibukota Mesir dan menjadikannya wasit dari klaim antara
Ptolemeus dan Kleopatra.
Kleopatra mengambil kesempatan ini dan
kembali ke istana untuk bertemu dengan Caesar. Dipercaya bahwa Caesar terpesona
dengan langkahnya, dan Kleopatra menjadi kekasihnya. 9 bulan setelah pertemuan
pertama mereka, Kleopatra melahirkan bayi. Pada saat ini, Caesar mengubah
rencana awalnya untuk menggabungkan Mesir, dan mendukung klaim Kleopatra atas
tahta. Setelah perang saudara pendek, Ptolemeus XIII tenggelam di sungai Nil
dan Caesar mengembalikan Kleopatra ke tahtanya, dengan adiknya yang
lainPtolemeus XIV sebagai wakil pemimpin baru.
Pada tanggal 23 Juni 47 SM, Cleopatra
melahirkan Ptolemeus Caesar (disebut "Caesarion" yang berarti
"Caesar kecil"). Cleopatra mengklaim Caesar sebagai ayahnya dan
berharap untuk menjadikan anak itu sebagai ahli waris, tetapi Caesar menolak
dan lebih memilih cucu lelakinya, Octavian. Caesarion dimaksudkan untuk
mewarisi Mesir dan Romawi, menyatukan timur dan barat.
Cleopatra dan Caesarion mengunjungi
Roma pada tahun 47 SM sampai tahun 41 SM dan hadir ketika Caesar dibunuh pada
tanggal 15 Maret 44 SM. Sebelum atau sesudah pembunuhan, ia kembali ke Mesir.
Ketika Ptolemeus XIV meninggal karena kesehatannya memburuk, Cleopatra
menjadikan Caesarion penerusnya.
Pada tahun 42 SM, Mark Antony, sebagai
salah satu orang yang berkuasa di Roma setelah kematian Caesar, memanggil
Cleopatra untuk bertemu dengannya untuk mempertanyakan kesetiaannya. Cleopatra
tiba dan memikat Antony yang menyebabkan Anthony menghabiskan musim dingin
tahun 41 SM–40 SM dengannya di Alexandria. Pada tanggal 25 Desember 40 SM, ia
melahirkan 2 anak, Alexander Helios dan Cleopatra Selene II.
Empat tahun kemudian, tahun 37 SM,
Antony mengunjungi Alexandria sekali lagi untuk berperang dengan Parthian. Ia
memperbarui hubungannya dengan Cleopatra, dan sejak saat itu Alexandria menjadi
rumahnya. Ia menikahi Cleopatra menurut ritus Mesir dan memiliki anak yang
bernama Ptolemeus Philadelphus.
Dengan donasi Alexandria pada tahun 34
SM, dan juga serangan Anthony atas Armenia, Cleopatra dan Caesarion dimahkohtai
sebagai wakil pemimpin Mesir dan Siprus. Alexander Helios menjadi pemimpin
Armenia, Media, dan Parthia; Cleopatra Selene II menjadi pemimpin Cyrenaica dan
Libya. Ptolemeus Philadelphus menjadi penguasa Phoenicia, Suriah, dan Sisilia.
Cleopatra juga mendapat gelar "Ratu atas Raja".
Sikap Anthony dipandang buruk oleh
Romawi dan Octavian meyakinkan senat untuk berperang dengan Mesir. Pada tahun
31 SM, pasukan Anthony menghadapi serangan armada Romawi di pantai Actium.
Dengan terjadinya pertempuran Actium, Octavian menyerang Mesir. Dengan tanpa
pengungsi lain yang melarikan diri, Anthony melakukan aksi bunuh diri dengan
menusukan pedangnya pada tanggal 12 Agustus 30 SM.
Kematian Mark Anthony dengan bunuh diri
disinyalir menjadi penyebab Cleopatra bunuh diri. Tidak diketahui bagaimana ia
meninggal, tetapi menurut legenda, ia mengambil keputusan untuk bunuh diri
setelah ia menyadari bahwa ia gagal mencapai tujuannya. Ia meninggal akibat
membiarkan dirinya digigit ular berbisa.
Anak Cleopatra, Caesarion mengklaim
dirinya sebagai pharaoh Mesir, tetapi Octavian menang lebih dulu. Caesarion
ditangkap dan dieksekusi, hal ini mengakhiri garis pharaoh Mesir. 3 anak dari
Cleopatra dan Antony diampuni dan dibawa kembali ke Roma dan mereka dirawat
oleh istri Anthony, Octavia Minor.