Source: Google
Beberapa waktu ini
saya sering kali diingatkan oleh Allah secara langsung ataupun tidak langsung
mengenai kesulitan dan kemudahan. Disadari atau tidak, mungkin tidak sedikit
dari kita yang pada saat ini tengah mengalami kesulitan, kesusahan, kebuntuan
dalam memecahkan masalah, sehingga yang terasa hanya perasaan bahwa ini adalah
titik terendah dalam hidup kita. Itulah hidup dengan berbagai warna dan naik
turunnya.
Saya bicara hal
tersebut karena saya pun sempat merasakan hal yang sama. Satu bulan ini, jujur
saja menjadi satu bulan yang cukup berat bagi saya. Berat bukan karena sakit
yang saya alami, tapi karena dengan begitu semuanya menjadi terbatas. Ketika
semua hal yang saya ingin lakukan harus “dibantu”, dari mulai makan, ke kamar
mandi, bahkan hanya sekedar ingin mengubah posisi ketika berbaring saja saya
harus dibantu. Tapi saya hanya berpikir bahwa, Allah sudah memberikan saya
semuanya dengan sempurna sebelumnya, tangan yang bisa menjangkau apapun, kaki
yang dapat berjalan dan bahkan berlari, tenaga yang luar biasa jika dalam
kondisi fit hingga dapat melakukan aktifitas apapun, pikiran yang prima sampai
membuahkan berbagai ide yang terus mengalir, dan itu semua sudah diberi-Nya
selama 24 tahun! Sekarang ini saya hanya perlu waktu satu bulan untuk dapat
memulihkan semuanya, bagaimana dengan orang-orang di luaran sana yang tidak
mengenal kata pemulihan, yang harus mengalami semua keterbatasan itu seumur
hidupnya? Selain itu saya hanya berpikir bahwa, mungkin Allah memberikan saya
waktu satu bulan ini sebenarnya untuk bersiap menghadapi berbagai hal yang
lebih luar biasa lagi kemudian di hadapan.
Allah tidak pernah
menyia-nyiakan kesabaran hambaNya, semua kesulitan, kekurangan dan kesempitan
hidup hanyalah satu episode hidup yang harus dijalani sebelum kita menghadapi berbagai
macam kemudahan dan kebahagiaan di masa berikutnya. Siapkah kita menerima kebahagiaan
tersebut? Tentu saja belum siap, maka Allah menyiapkan kita dengan berbagai
macam ujian-ujian menuju kebahagiaan tersebut. Allah sudah menyatakannya dengan
jelas dalam Q.S. Al-Insyirah: 5-6 “Maka sesungguhnya
bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”.
Allah menekankan hal tersebut dalam dua ayat sekaligus, bagi saya ini berarti
bahwa jika menghadapi sebuah kesulitan maka berusaha saja lakukan yang
sebaik-baiknya jangan pernah berputus asa karena di depan akan ada kemudahan
dan ketika segalanya sudah dilakukan dengan maksimal maka tinggal bertawakkal
karena Allah sudah menjanjikan kemudahan setelahnya.
Teringat cerita salah
seorang ustadz tentang belajar dari bagaimana Siti Hajar bersabar dalam
kesulitan dan berupaya dalam kesungguhan tawakkal yang penuh kepada Allah. Sambil
menggendong Ismail kecil berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah untuk mencari
air. Satu kali mencoba air tidak ada, dua kali mencoba air hanya fatamorgana,
tiga kali mencoba air tak kunjung nyata, Siti Hajar tidak menghentikan upayanya
hingga kali KETUJUH dan pada akhirnya Allah menganugerahkan air zam-zam sebagai
balasan dari upaya tanpa letih tersebut.
Apakah pada saat itu
Allah hanya menganugerahkan air zam-zam pada Hajar setelah upayanya tersebut?
nyatanya air zam-zam yang tak henti mengalir itu mendatangkan sekawanan
burung-burung yang ikut minum, maka pada saat itu Allah memberikan pula makanan
bagi Siti Hajar dan Ismail. Dari sekawanan burung yang terlihat berkumpul di
kejauhan itu menarik orang-orang yang melihat untuk mencari tahu ada apa
gerangan. Setelah tahu ternyata ada sumber mata air di tempat Hajar, banyak
orang berbondong-bondong ikut mengambil air dari tempat dimana Siti Hajar dan
Ismail berdiam, dan Allah menurunkan bukan hanya air dan makanan tapi juga
kawan bagi mereka berdua.
Maka saat ini bagi semua
yang tengah mengalami kesulitan, semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan
dan ketawakkal-an tak henti, hingga Allah mengganti semua kesulitan tersebut
dengan berbagai kemudahan di hadapan. Amin…
Sungguh
bersama kesulitan ada kemudahan.
Wallahu
a’lam bisshawwab.