30 May 2012



Bagi saya, membaca tentang sejarah seperti berjalan di lorong waktu dimana ingatan dan imajinasi dikondisikan dalam sebuah masa bernama masa lalu. Ini sungguh menarik, merasakan betapa di masa yang lampau, sungguh banyak hal yang seringkali tak terpikirkan terjadi. Berangkat dari ketertarikan itu, beberapa hari ini saya rajin browsing segala hal yang berkaitan dengan sejarah. Ada tiga topik yang dengan tekun sedang saya baca, diantaranya adalah: Sejarah Peradaban Mesir Kuno, Sejarah Peradaban Mesopotamia dan Sejarah Peradaban Islam. Kedepannya saya akan coba share hasil perburuan bacaan-bacaan saya itu secara berkala.

Ketika membaca tentang Sejarah Peradaban Mesir Kuno, perhatian saya tertuju pada seorang Ratu Mesir Kuno anggota terakhir dinasti Ptolemeus yaitu : Kleopatra VII. Sebelumnya, saya berpikir bahwa Kleopatra itu adalah sebuah nama yang dimiliki oleh satu orang saja. Ternyata anggapan saya keliru, karena banyak Ratu Mesir lain yang juga menggunakan nama Kleopatra. Namun, walaupun banyak yang menggunakan nama tersebut, Kleopatra VII-lah yang dikenal secara umum dengan nama Kleopatra, dan semua pendahulunya yang bernama sama hampir dilupakan orang.

Disini saya tidak akan memaparkan deskripsi sejarah lengkap ketika Mesir ketika berada di bawah pimpinannya. Kebanyakan topik mengenai Kleopatra sering dikaitkan dengan kekuatan kecantikannya yang membuat takjub para pria. Bahkan dikisahkan Julius Caesar dan Mark Anthony menjadi dua orang pembesar yang takluk dalam pelukan Kleopatra. Namun, ada hal lain yang tidak banyak orang perhatikan. Sebagai pemimpin besar yang pada akhirnya menguasai Mesir, jalan Kleopatra tak semulus wajahnya.

Sejak kecil, kehidupan Kleopatra telah biasa menghadapi berbagai konflik dan intrik. Persengketaan di lingkungan keluarga bukanlah hal asing baginya. Di usia remajanya, Kleopatra harus menyaksikan kejatuhan ayahnya sendiri yang pada saat itu memerintah Mesir diakibatkan oleh beban utang yang tinggi. Adapun Kleopatra mengalami naik tahta di usianya yang ke-delapan belas, cukup muda untuk seorang pemegang pimpinan tertinggi. Kleopatra memimpin bersama adik yang juga suaminya Ptolemeus XIII sebagai pemimpin gabungan. Dalam 3 tahun pertama kekuasaan, mereka mengalami kondisi sulit karena permasalahan ekonomi, kelaparan, banjir sungai Nil dan konflik politik.

Pada bulan Agustus tahun 51 SM, relasi kepemimpinan Kleopatra dan Ptolemeus XIII rusak. Kleopatra menurunkan nama Ptolemeus dari dokumen resmi dan wajahnya muncul sendiri di uang koin yang berada diluar tradisi Ptolemaik yang menyatakan bahwa pemimpin wanita dibawah  pemimpin laki-laki. Kondisi ini pada akhirnya membentuk kelompok rahasia di luar istana yang bermaksud menurunkan Kleopatra dari kekuasaan dan menjadikan Ptolemeus sebagai pemimpin. Pada akhirnya, Kleopatra terpaksa melarikan diri dari Mesir dengan meninggalkan adiknya.

Ketika Kleopatra pergi dari Mesir, Pompey yang merupakan pemimpin militer dan politik Republik Romawi tengah melibatkan diri dalam perang saudara Romawi. Pada musim gugur tahun 48 SM, Pompey melarikan diri dari pasukan Julius Caesar ke Alexandria dan mencari suaka. Ptolemeus saat itu berusia 15 tahun dan menunggu kedatangannya. Pada tanggal 28 September 48 SM, Pompey dibunuh oleh salah satu mantan opsirnya yang sekarang bekerja untuk Ptolemaik. Ptolemeus berpikir bahwa dengan ia telah memerintahkan kematian Pompey untuk menyenangkan Julius Caesar. Ternyata hal ini merupakan kesalahan besar yang dilakukan oleh Ptolemeus. Ketika Caesar tiba di Mesir dua hari kemudian, Ptolemeus memberikan kepala Pompey bermaksud memberikan kabar gembira atas apa yang telah dilakukannya. Caesar yang melihat hal ini sangat marah karena fakta bahwa walaupun Pompey adalah musuh politik Caesar, namun ia pun merupakan konsul Roma dan duda dari anak Julis Caesar, Julia. Caesar menguasai ibukota Mesir dan menjadikannya wasit dari klaim antara Ptolemeus dan Kleopatra.

Kleopatra mengambil kesempatan ini dan kembali ke istana untuk bertemu dengan Caesar. Dipercaya bahwa Caesar terpesona dengan langkahnya, dan Kleopatra menjadi kekasihnya. 9 bulan setelah pertemuan pertama mereka, Kleopatra melahirkan bayi. Pada saat ini, Caesar mengubah rencana awalnya untuk menggabungkan Mesir, dan mendukung klaim Kleopatra atas tahta. Setelah perang saudara pendek, Ptolemeus XIII tenggelam di sungai Nil dan Caesar mengembalikan Kleopatra ke tahtanya, dengan adiknya yang lainPtolemeus XIV sebagai wakil pemimpin baru.

Pada tanggal 23 Juni 47 SM, Cleopatra melahirkan Ptolemeus Caesar (disebut "Caesarion" yang berarti "Caesar kecil"). Cleopatra mengklaim Caesar sebagai ayahnya dan berharap untuk menjadikan anak itu sebagai ahli waris, tetapi Caesar menolak dan lebih memilih cucu lelakinya, Octavian. Caesarion dimaksudkan untuk mewarisi Mesir dan Romawi, menyatukan timur dan barat.

Cleopatra dan Caesarion mengunjungi Roma pada tahun 47 SM sampai tahun 41 SM dan hadir ketika Caesar dibunuh pada tanggal 15 Maret 44 SM. Sebelum atau sesudah pembunuhan, ia kembali ke Mesir. Ketika Ptolemeus XIV meninggal karena kesehatannya memburuk, Cleopatra menjadikan Caesarion penerusnya.

Pada tahun 42 SM, Mark Antony, sebagai salah satu orang yang berkuasa di Roma setelah kematian Caesar, memanggil Cleopatra untuk bertemu dengannya untuk mempertanyakan kesetiaannya. Cleopatra tiba dan memikat Antony yang menyebabkan Anthony menghabiskan musim dingin tahun 41 SM–40 SM dengannya di Alexandria. Pada tanggal 25 Desember 40 SM, ia melahirkan 2 anak, Alexander Helios dan Cleopatra Selene II.

Empat tahun kemudian, tahun 37 SM, Antony mengunjungi Alexandria sekali lagi untuk berperang dengan Parthian. Ia memperbarui hubungannya dengan Cleopatra, dan sejak saat itu Alexandria menjadi rumahnya. Ia menikahi Cleopatra menurut ritus Mesir dan memiliki anak yang bernama Ptolemeus Philadelphus.

Dengan donasi Alexandria pada tahun 34 SM, dan juga serangan Anthony atas Armenia, Cleopatra dan Caesarion dimahkohtai sebagai wakil pemimpin Mesir dan Siprus. Alexander Helios menjadi pemimpin Armenia, Media, dan Parthia; Cleopatra Selene II menjadi pemimpin Cyrenaica dan Libya. Ptolemeus Philadelphus menjadi penguasa Phoenicia, Suriah, dan Sisilia. Cleopatra juga mendapat gelar "Ratu atas Raja".

Sikap Anthony dipandang buruk oleh Romawi dan Octavian meyakinkan senat untuk berperang dengan Mesir. Pada tahun 31 SM, pasukan Anthony menghadapi serangan armada Romawi di pantai Actium. Dengan terjadinya pertempuran Actium, Octavian menyerang Mesir. Dengan tanpa pengungsi lain yang melarikan diri, Anthony melakukan aksi bunuh diri dengan menusukan pedangnya pada tanggal 12 Agustus 30 SM.

Kematian Mark Anthony dengan bunuh diri disinyalir menjadi penyebab Cleopatra bunuh diri. Tidak diketahui bagaimana ia meninggal, tetapi menurut legenda, ia mengambil keputusan untuk bunuh diri setelah ia menyadari bahwa ia gagal mencapai tujuannya. Ia meninggal akibat membiarkan dirinya digigit ular berbisa.

Anak Cleopatra, Caesarion mengklaim dirinya sebagai pharaoh Mesir, tetapi Octavian menang lebih dulu. Caesarion ditangkap dan dieksekusi, hal ini mengakhiri garis pharaoh Mesir. 3 anak dari Cleopatra dan Antony diampuni dan dibawa kembali ke Roma dan mereka dirawat oleh istri Anthony, Octavia Minor.

Sumber : Wikipedia
Sumber Gambar : Disini


Tagged:

0 comments:

Post a Comment