“nak…pergilah ke pasar!”
“membeli apa bu?”
“pergi saja, bawa catatan ini. Jangan kau buka! berikan saja pada Takdir!”
“Baiklah”
Aku pergi, tanpa kemudi hanya dengan kaki. Berjalan bersiul-siul meski kepalaku penuh penat dengan pertanyaan. Ibu menyuruhku ke pasar, membawa catatan bagai mantera. Pesannya hanya satu, bertemu Takdir dan memberi catatan ini. Tak ada yang istimewa memang, biasa saja.
Aku berjalan, bertemu orang berlari-lari, kadang terengah dan berhenti. Aku berjalan saja, tak lambat dan tak cepat,tak dilebih-lebihi dan tak lampaui. Ah..berjalanku sudahpun jauh, tak kutemukan juga pasar itu.
Aku berhenti, lelah sudah terengah-engah. Masa terbuang tenaga hampa, aku dilema hampir putus asa. Dimanakah pasar yang ibu ingin aku tuju. Salahku tak tanya peta, arah dan tempat sudah tak tersapa, mata buta tak ada pelita.
Di depan kulihat pemuda, tengah duduk dan lelah sepertinya. Seperti aku ia pun menunduk. Peluhnya terjatuh tak sengaja. Alangkah baiknya jika kusapa sepertinya.
“Hai tuan hendak kemanakah gerangan?”
“Tak ada, hanya berjalan saja”
“Tak mungkin begitu adanya, tentulah tuan miliki tujuan”
“Tak ada! Dan Tak usah memaksa!”
“oh…maaf tuan saya sekedar bertanya”
“Sudahlah lupakan!”
“Tak bertanyakah tuan tentang saya?”
“Untuk apa?”
“Untuk peduli dan perhati”
“Peduli sudah dimakan kutu-kutu dengki, perhati telah mati suri”
“Ah…saya tak mengerti”
“pantas saja!Kau tak tahu bahwa bertanya sekarang sudah dilarang?”
“Sejak kapan tuan?”
“Sejak jawaban disembunyikan!”
“Disembunyikan?”“Ya…disembunyikan…ah..lagi-lagi kau tak mengerti”
“Saya hendak ke pasar, sudikah tuan menunjukan arah?”
“Belok saja”
“Belok kemana tuan?”
“Belok saja kataku! Tak ada jalan lurus menuju pasar”
“Ah baiklah…terima kasih tuan”
“Aduhai…jangan berterima kasih!!! Tak tahukah kau keagungannya, tak boleh sembarang berterima kasih, nanti mulia kau dibuatnya.”
“apa?”
“sudah!Pergi!”
“membeli apa bu?”
“pergi saja, bawa catatan ini. Jangan kau buka! berikan saja pada Takdir!”
“Baiklah”
Aku pergi, tanpa kemudi hanya dengan kaki. Berjalan bersiul-siul meski kepalaku penuh penat dengan pertanyaan. Ibu menyuruhku ke pasar, membawa catatan bagai mantera. Pesannya hanya satu, bertemu Takdir dan memberi catatan ini. Tak ada yang istimewa memang, biasa saja.
Aku berjalan, bertemu orang berlari-lari, kadang terengah dan berhenti. Aku berjalan saja, tak lambat dan tak cepat,tak dilebih-lebihi dan tak lampaui. Ah..berjalanku sudahpun jauh, tak kutemukan juga pasar itu.
Aku berhenti, lelah sudah terengah-engah. Masa terbuang tenaga hampa, aku dilema hampir putus asa. Dimanakah pasar yang ibu ingin aku tuju. Salahku tak tanya peta, arah dan tempat sudah tak tersapa, mata buta tak ada pelita.
Di depan kulihat pemuda, tengah duduk dan lelah sepertinya. Seperti aku ia pun menunduk. Peluhnya terjatuh tak sengaja. Alangkah baiknya jika kusapa sepertinya.
“Hai tuan hendak kemanakah gerangan?”
“Tak ada, hanya berjalan saja”
“Tak mungkin begitu adanya, tentulah tuan miliki tujuan”
“Tak ada! Dan Tak usah memaksa!”
“oh…maaf tuan saya sekedar bertanya”
“Sudahlah lupakan!”
“Tak bertanyakah tuan tentang saya?”
“Untuk apa?”
“Untuk peduli dan perhati”
“Peduli sudah dimakan kutu-kutu dengki, perhati telah mati suri”
“Ah…saya tak mengerti”
“pantas saja!Kau tak tahu bahwa bertanya sekarang sudah dilarang?”
“Sejak kapan tuan?”
“Sejak jawaban disembunyikan!”
“Disembunyikan?”“Ya…disembunyikan…ah..lagi-lagi kau tak mengerti”
“Saya hendak ke pasar, sudikah tuan menunjukan arah?”
“Belok saja”
“Belok kemana tuan?”
“Belok saja kataku! Tak ada jalan lurus menuju pasar”
“Ah baiklah…terima kasih tuan”
“Aduhai…jangan berterima kasih!!! Tak tahukah kau keagungannya, tak boleh sembarang berterima kasih, nanti mulia kau dibuatnya.”
“apa?”
“sudah!Pergi!”
Tak mengerti lagi-lagi tak mengerti. Sejak pertama melangkah akupun telah tak mengerti. Apa maksud ibu aku hanya jalani. Sesuai petunjuk aku berbelok, berbelok berkali-kali. Tak ada tanda akan kutemukan pasar, tapi aku hanya menuruti, laki-laki dengan arti yang tak kutemui.
Sayup-sayup terdengar suara, riuh rendah aku hapal wujudnya. Ya,itu pasar pastinya, senang bukan kepalang aku tertawa. Semakin dekat jantungku berdegup, berdetak-detak serasa ingin melompat. Ah…pasar…akhirnya kutemukan jua engkau. Tak sia-sia berjalan hingga sejauh ini, karena tujuan telah aku tahu pasti kini.
Sebelum masuk aku harus antre, berbanjar-banjar dari luar. Gerbang belum dibuka, manusia-manusia berkumpul di gerbangnya. Sebelah kiri kulihat seorang renta, tangan bergetar mata tak bercahaya. Terbata-bata meminta iba, namun tak seorang menoleh padanya. Kuhampiri dan duduk di sebelahnya, dan terbukalah dialog dua manusia:
“Sedang apa ibu renta?”
“Hai mengapa kau keluar dari banjar-banjar itu?!! Ayo lekas kembali”
“Tak apa, aku bisa masuk antre lagi!”
“Tak bisa! Ayo lekas kembali”
“Tak apa, tak usah khawatir ibu renta. Jawablah pertanyaanku mengapa kau disini?”
“Membeli keadilan nak…”
“Apa? Jangan bercanda ibu renta! Pasar ini menjual keadilan?”
“Mengapa kau heran anak muda? Setiap orang harus membeli keadilan”
“Bagaimana bisa?”
“Bisa saja,kau tak akan mendapat keadilan jika tak membelinya”
“Adil itu murni ibu renta, tempatnya di telaga nirwana, dijaga dewa dalam jelaga, bagaimana mungkin kau dapat membelinya?”
“Adil ini hanya replika, setidaknya sedikit menyelamatkan manusia dari huru-hara. Semua dapat dibeli di pasar ini.”
“Ah..yang benar saja!”
“Mengapa kau tak percaya?”
“Adil mana bisa dibuat replika, adil itu nyata!”
“Bangun dari tidurmu nak! sudah sejak lama dunia kehilangan wujud adil yang sesungguhnya. Telaga nirwana dikunci selamanya, karena manusia sungguh durhaka mempemainkannya”
“Lalu, dengan apa kau membeli replika adil?”
“Dengan cendana, kesukaan sang penjaga. Ia akan berikan replika dengan senang bukan kepalang”
“Tidakkah dia punya hati menjual replika adil?”
“Tidakkah kau tahu bahwa mereka memang tak punya hati?! Menjadi penjaga replika berarti mencabut hati dari akar jiwamu!”
“Apa? Mengapa semua jadi begini?”
“Sudahlah anak muda!jangan bertanya! Karena jawaban telah disembunyikan wujudnya!”
Aku kembali ke dalam banjar-banjar tadi, tak tahan rasanya memperhatikan semua ini. Jawaban yang disembunyikan hingga keadilan dalam replika sungguh membuat aku putus asa dibuatnya. Adakah kehidupan yang biasa saja, dalam tentram dan damai yang selalu ku pinta? Ah… aku lupa tak boleh bertanya, karena jawaban telah disembunyikan adanya.
Aku masih menggenggam catatan ibu, mencari seorang bernama Takdir. Kembali berjalan di tengah hiruk pikuk manusia yang menunggu gerbang dibuka. Bosan aku bertanya, karena jawaban disembunyikan wujudnya. Maka aku berjalan saja, berharap temukan Takdir di hadapan. Putus asa aku berteriak sekuat tenaga “Takdir! Dimana kau! Aku mencarimu!!!”. Seketika Takdir mendekat tanpa berkata tanpa bicara, matanya riak seolah bertanya. Segera aku berikan catatan ibu. Tanpa lama dia membaca, menatapku lekat-lekat dan mengangguk penuh asa. Ia kembalikan catatan ibu, sorot matanya bagai berkata agar aku segera pulang. Dalam langkah aku membaca, pesan tertera dalam mantera :
“Takdir… ini anakku,Nurani namanya.
Jangan coba-coba memberinya replika adil,
karena di tangannya kunci telaga nirwana akan terbuka.
Camkan itu!”





0 comments:
Post a Comment