
Hari-hari di dunia begitu berat untuk dijalani. Banyak sekali yang diurus namun akhirnya tak terurus, otak dan pikiran dijejali berbagai macam ragam kerja demi melakukan satu harga mati dalam hidup; rutinitas. Menyerahkah pada semua itu? Tentu saja tidak, semuanya bergantung bagaimana cara memandang dan menyiasati saja. “Aku”, “dia”, dan “dirinya” pun merasakan hal serupa. Kami lelah dan bosan, hampir saja mati kreatifitas dan tumpul analisa, benar-benar mengenaskan. Kami butuh sesuatu yang baru, di luar rutinitas dan kebiasaan yang selama ini berlaku. Lalu kami putuskan, kami akan berjalan. Ya, berjalan saja, entah kemana, hanya berjalan saja.
Keluar dari kebiasaan kami rubah definisi “rencana”. Tak ada rencana, tak ada jadwal, kami jalani saja apa yang kami inginkan, untuk berjalan tentu saja, dimulai hari ini, ya, hari ini. Siapa yang merencanakan? Bukan kami tentu, seperti yang aku katakan tadi, kami sudah merubah definisi “rencana” saat ini.
Di bawah terik yang menjerang aku berjalan, panas sekali. Manusia memang kurang ajar merusak bumi ini, hingga akhirnya bumi pun betul-betul marah. Seperti siang ini, ia marah dengan memuntahkan panasnya yang tak hingga di ubun-ubun. Tak apalah, toh “aku” juga manusia, “aku” juga bersalah jika “aku” diam saja.
Berharap temukan “dia” di pusat rutinitas aku terus melangkah. Dan benar saja, “dia” tertunduk dalam dan hampir tenggelam. Wajahnya kusam, rutinitas mengecewakannya. “waktu tak berpihak padaku, hampir saja aku dapat sukses dalam rutinitas hari ini. Namun, karena terlambat sedikit saja, ia enggan menoleh padaku” ungkapnya lirih, kecewa tentu saja. “Dia” telah merencanakan hari ini dengan begitu sempurna, mengukur berapa lama berjalan, dan saja yang harus dilakukan. Namun begitulah rutinitas, membunuh korbannya pelan-pelan dengan rasa bosan dan putus asa jika ia berubah sedikit saja.
“Sudahlah, ayo!” ucapku seraya menarik tangannya, inginku membawanya pergi jauh dari sang penjahat bernama “rutinitas”, menyelamatkannya dari rasa bosan dan melindunginnya dari putus asa.
“kemana?” ucapnya penuh tanya.
“berjalan!” jawabku dengan satu kata yang memungkas pembicaraan kami.
Senyum “dia” mengembang, entah apa artinya. Lalu kami bicara, bicara yang banyak sekali tak henti-henti. Berjalan saja ikuti kemana langkah kaki dan biarkan ia menyampaikan kami kemanapun inginnya ia pergi. Berbagai cerita silih berganti, “Aku” bercerita tentang langit lazuari, indah dan bijaksana. Dalam siang yang begitu benderang ia adalah peneduh dari sinar mentari yang terlalu congkak bersinar. Kunyatakan indahnya pada “Dia” dan kuyakinkan indahnya bukan impian. Ia mengangguk-angguk dan tersenyum, sesekali menatap langit pula bersamaku, dan dia setuju pada ceritaku adapun “Aku” tentunya senang bukan kepalang.
Lalu berganti “Dia” bercerita tentang malam, pekat namun elegan berbinar disiram cahaya purnama, ”oh…tak tertanding indahnya” ungkapnya. Aku mengangguk juga, mendengarkan dengan seksama setiap kata-kata yang “Dia” ucapkan. Dari sorot matanya dapat kulihat “Dia” begitu mengenal malam berpurnama itu. Dan kami lagi-lagi terkagum-kagum pada alam semesta raya, diciptakan olehNya tentu saja.
Masih berjalan dan terus berjalan, bersama angin yang bermain-main manja riang tak terkira. Sesekali senyum dan gelak tawa menghambur ke udara, disampaikan angin pada langit dan purnama lalu diterbangkan melewati batas samudera. Indah tak terkira, dan sekejap saja kami sudah lupa dengan penat dan rutinitas yang sebelumnya menggantung di kepala. Kulihat senyum “Dia” mengembang indah, tak ada lagi kusam wajah yang kutemui tadi, “Dia” sudah mengalihkan kecewanya pada semua cerita bahagia yang ia ungkapkan padaku saat ini.
Di tengah langkah kami bertemu “dirinya”, wajahnya tak kurang kusam dari “dia” ketika tadi kutemukan. Entah mengapa dan oleh siapa, mungkin juga “dirinya” telah menjadi korban “rutinitas” seperti “Dia”. Tak terlihat cahaya dan rona di wajahnya, aku turut berduka dan ingin membantunya. Lalu “Aku” dan “Dia” meraih tangannya, menggenggam erat dan menarik untuk mengajak.
“kemana?” “Dirinya” menatap kami dan bertanya, keheranan yang tak sedikitpun surut seketika.
“Berjalan” jawabku biasa sembari masih menarik tangannya.
Lalu “Dirinya” tersenyum, dan itu berarti ia setuju. Walaupun “Dirinya” tak tahu akan kemana kami melangkah namun mungkin pikirnya setidaknya ini lebih baik daripada berwajah kusam sendirian.
Kami kembali berjalan, kami yang telah berubah, dari hanya “Aku” dan “Dia”, menjadi “Aku”, “Dia”, dan “Dirinya”. Kami yang semakin semarak dalam berjalan. Aku yakin ini tak akan terlupakan
“Dirinya” bercerita tentang gemintang. Sirius, Canopus, Bellatrix, Capella, dan sejumlah nama bintang lainnya meluncur deras dari mulutnya. Tak berhenti bicara, bahagia nampaknya, dan kepenatan pun semakin terlupa. Kami berjalan dan terus berjalan, siang berganti senja, lazuari pun larut dalam lautan jingga mega di angkasa.
Di hadapan air mancur Fontana kami duduk sejenak, menikmati nuansa yang indah luar biasa. Airnya ditempa cahaya senja, hingga bagai emas berkilauan memancar berundak-undak dan bermuara di kolam besar. Airnya jatuh anggun sekali, teratur rapi, terpecah, dan kemudian menyatu tenang dalam kolam besar di bawahnya. Pirro Ligorio tak salah jika menyebut ini sebagai karya terbaiknya. Angin sore berhembus lembut, menyeka peluh dan meluluhkan kelelahan. Tak ada satupun bicara, dengarkan suara alam semesta yang riuh rendah. Harmonisisasi yang belum pernah ada sebelumnya. Kami tersihir dengan keindahan senja yang menjelma. Aku memejam mata, mencoba memotret semua yang tampak di hadapan, dalam relung hati terdalam.
Tiba-tiba sebuah rasa menyusup pelan dalam sisi sanubari yang hampir mati, rasa rindu yang benar-benar pilu. Belum saja kami berajak, namun rindu sudahpun menjelma meliputi dinding hatiku. Rindu akan keindahan yang luar biasa ini, rindu akan harmonisasi ini, dan rindu akan “dia” dan “dirinya” yang kini tengah duduk di sampingku. Dalam hati aku berbisik “aku tak akan melupakan perjalanan ini”.
Kami beranjak, kembali berjalan, kembali bicara, kembali bercerita. Semua isi kepala kami rangkai menjadi kata-kata, kata menjadi kalimat, dan kalimat menjadi cerita. Cerita yang tak putus-putus, saling menyambung, saling menyambar, tak ada sepi, tak ada sunyi, kini semesta yang terdiam dan kami bicara. Malam mulai menjelma, kami tetap berjalan, bermandikan kristal cahaya malam yang jatuh bersinar. Cahayanya tak biasa, berpendar lembut namun terangnya luar biasa. Dimana-mana cahayanya, titik-titik yang mengagumkan indahnya, berpendar-pendar. Mataku tak kuasa menangkapnya satu-satu, terlalu berhamburan, namun terlalu indah untuk dilewatkan satu-satu.
Dalam perjalanan ini, duka kami menjadi suka, kecewa kami menjadi bahagia, dan kami menelan itu semua bersama. Dalam perjalanan “Aku” berkata “ini tak boleh menjadi yang terakhir” ucapku pada “Dia” dan “Dirinya. Entah mengapa perjalanan ini meninggalkan kenangan yang begitu mendalam, membekas dan menyisakan berbagai rasa yang tumpah ruah tak tertampung dalam cawan hati. Kami kembali berjalan ditemani pendar-pendar kristal cahaya malam. Dalam hati kami berbisik pelan “akan berjalan lagi suatu saat nanti…”.[]GP2009





0 comments:
Post a Comment