Siang begitu terik, membakar kulit hingga ubun-ubun, panas dan mendidihkan otak. Aku berjalan gontai, ingin pulang sedari tadi namun tak tahu kemanakah arahnya. Hanya berjalan saja sampai kaki lelah dan patah, berjalan dan terus berjalan, tak kutemukan seorang maupun seekor makhluk pun, mungkin semua enggan untuk berjalan, atau mungkin semua telah menemukan jalan pulang, entahlah... Sendiri, lelah, dan kehausan, kesadaranku mulai menurun. Tiba-tiba kulihat setitik benda kecil bergerak mendekat di kejauhan. Sebuah bus! Semakin mendekat, dan tentunya tak sekecil ketika kulihat pertama kali tadi di kejauhan.
Kucoba hentikan bus yang melaju dengan amat sangat lambat itu. Bus berhenti, aku meraih pegangan di samping pintu masuk dan kunaiki undakan tangga-tangga kecil yang berjumlah empat buah. Sang supir berwajah seram, jangan tanyakan padaku definisi ‘seram’, yang pasti aku kecut melihatnya. Niat hati bertanya pun terurungkan sudah. Ku edarkan pandangan ke sekeliling, mencari tempat duduk . Semua orang tengah tertidur, dan pandanganku menangkap sesosok pria yang terbangun karena terkaget setelah bus berhenti mendadak ketika aku naik tadi.
Aku menghampirinya, tersenyum ramah dan meminta ijin untuk duduk di sampingnya. Ia hanya mengangguk tanda setuju dan aku duduk di sampingnya. Panas tak juga mereda, bahkan semakin menjadi karena pengapnya bus. Seluruh jendela di d alam bus tertutup rapat, semakin lama aku semakin sulit bernapas. Aku melirik pada jendela di samping kananku, tentunya tak dapat langsung kubuka karena terhalang pria di sampingku. Dia mengerti, dan membukakan jendela untukku. Namun tak merubah keadaan, sesak, pengap, udara menguap bersama bau keringat dari orang-orang di dalam bus. Sebenarnya bus ini tak begitu penuh sesak, namun udara terasa amat sangat tipis. Oksigen mungkin telah menguap bersama panas mendidih di dalam bus. Aku mencoba menguatkan diri, walau sebenarnya keringat membanjir dan dada semakin sesak. Tapi aku ingin pulang, jadi ku abaikan semua yang kurasakan saat ini, walau sejujurnya amat sangat mengganggu.
“Hendak kemana anak muda?” sebuah suara dari sampingku memecah kesuyian.
“Hendak pulang” jawabku diiringi senyum, tanda bahagia karena pada akhir perjalanan ini aku akan menemukan tujuanku, pulang…
“Baru kali ini kau menggunakan bus ini?” lanjut pria di sampingku dengan datar, ucapannya tak diiringi ekspresi apapun di wajahnya.
“Hah…?mmm…ya nampaknya begitu” jawabku setengah bingung, karena baru terpikirkan bahwa aku baru kali ini menggunakan bus ini untuk pulang.
“Pulang kemana?” lanjut pria tersebut, masih ada saja pertanyaannya untukku, tak apalah agar aku melupakan udara pengap dan panas ini.
“Pada Kasih sayang dan penghargaan” jawabku antusias, karena siapa tahu pria ini tahu kemana arah jalan pulangku.
“Apa?!!! Hahaha…hahaha…hahaha…hahaha…” tiba-tiba pria ini tertawa begitu keras, tertawa puas dan melecehkan, saking kerasnya ia membangunkan seluruh penumpang yang sedari tadi tertidur.
“Cuih!!!” Dia meludah tepat di mukaku, terasa panas dan membakar. “Penghargaan dan kasih sayang?!! Atas dasar apa kau ingin dihargai?! Hah?! Jawab!!!” ucapnya seraya mencengkram kerah kemejaku. Semua orang di dalam bus menghampiri, mencari tahu apa yang sedang terjadi. “Orang ini akan pulang pada penghargaan dan kasih sayang, mulutnya begitu busuk mengatakan dua kata itu dengan seenaknya saja! Mulutmu saja tak pernah dibasuh air ikhlas! bagaimana mungkin kau berani mengatakannya!!!Kau tak pantas mendapatkannya!!! Penghargaan dan kasih sayang yang kau pahami adalah pemahaman tai kucing!!!Cuih!” Dia menunjuk-nunjuk wajahku pada semua penumpang bus. Suaranya tinggi dan semakin meninggi, kemudian meludah ke arah sepatuku. Aku terhenyak, terkaget, dan tak dapat bicara sepatah kata pun.
“Lalu kemanakah seharusnya aku pulang?” tanyaku dengan gemetar
“Atas alasan apa aku dapat dengan mudah mengatakannya padamu, hah?!”
“Karena akulah pemberi manfaat pada orang banyak, aku bersedekah, aku membangun tempat-tempat ibadah, dan aku pantas mendapatkannya” aku sedikit memberanikan diri, mungkin dengan meyebut jasaku orang ini akan memberi tahu kemanakah tujuan pulangku seharusnya.
“Aku!!! Aku!!!Aku!!!di otakmu hanya ada aku!!!dan sempurnalah sudah kesombonganmu! Air ikhlas dan tujuan pulangmu tak akan pernah kau temukan hingga kau menangis darah dan terperosok pada ujung dunia sekalipun!mengerti?! sekarang kau enyahlah dari pandangan kami, kau tak pantas ada disini! Kau salah tujuan pulang! jika kau sudah menenggak air ikhlas, niscaya tujuan pulangmu bukan dua hal yang kau sebut tadi!”
“Apa…” belum selesai aku bicara, tiba-tiba semua orang di dalam bus mengangkat tubuhku, bus berhenti, dan tubuhku dilempar keluar. Apa yang terjadi? Akupun tak mengerti. Aku bangkit dengan masih tak mengerti apa yang sedang terjadi. Begitu singkat dan mengejutkan. Seluruh pakaianku terbasuh debu, lusuh dan berkeringat.
“Salah pulang…?” gumamku, tetap tak mengerti akan kejadian yang begitu mengejutkan tadi. “Lalu aku harus pulang kemana? Bukankah penghargaan dan kasih sayang adalah segalanya, bukankah semua orang melakukan segalanya agar dapat dihargai dan lebih disayangi, bukankah itu hal yang wajar? Apa yang sudah kulakukan sudahpun cukup untuk mendapatkannya. Tapi kenapa aku dimarahi sejadi-jadinya tadi?”
Berjalan gontai dengan pertanyaan menggantung di kepala. Sekarang aku mencoba merubah arah pulang. Aku bertanya pada angin, kemana aku harus pulang? Ia tak menjawab, mungkin begitu sibuk bergerak hingga tak dengarkan pertanyaanku. Lalu kutanyakan pada langit, ia pun tak menjawab, mungkin begitu jauhnya jarakku dengannya hingga ia tak dapat mendengar. Lalu harus pada siapa aku bertanya, aku terduduk pada tanah, dan mencoba bertanya padanya.
“tahukah kau kemana aku akan pulang?” aku menunduk dan mendekatkan wajahku padanya agar ia dapat mendengarku.
“tentu saja…” ia menjawab dengan dingin dan tanpa tambahan kata.
“maukah kau memberi tahu padaku kemana aku akan pulang?” tanyaku dengan sedikit cemas, karena khawatir diperlakukan sama ketika tadi di bus.
“manusia selalu bertanya dan kemudian lupa” dia menjawab dan menoleh ke arahku pun tidak.
“apa maksudmu? Aku tak mengerti” tanyaku agar ia dapat menjelaskan maksudnya.
“…dan manusia sering bertanya hanya untuk berpura-pura saja” dia melanjutkan jawabannya dan tetap saja aku tak mengerti.
“mmm…maaf tapi aku tetap tak mengerti apa maksudmu?bisakah kau jelaskan padaku?” aku sedikit merayu agar aku tahu kemana tujuan pulangku.
“tak tahukah kau kemana tujuan pulangmu?” ia kembali bertanya padaku yang masih saja kebingungan dengan dialog ini. Rumit dan tak mudah aku cerna, mungkin karena teriknya matahari belum juga mendinginkan otakku.
“Karena itulah aku bertanya padamu. Jika kau tahu, aku akan memberikan seluruh apa yang ada padaku untukmu” aku kembali merayunya agar ia dapat mengatakan kemana tujuan pulangku.
“Tak perlu, kau tak miliki sesuatu apapun untuk kau berikan padaku” ucapnya dengan membuang muka dan tersenyum kecut.
“Baiklah, sekarang maukah kau katakan padaku kemana tujuan pulangku?” aku masih saja merayunya, dan nampaknya ia akan menyebutkannya sekejap lagi.
“Tempat pulangmu tak jauh darimu, tempatmu berpijak yang tengah kau ajak bicara saat ini, kau mengerti? Ah…kau pasti akan berkata mengerti dengan kesombonganmu. Telah lama aku menyaksikan tingkah lakumu di atas pijakanmu. Sudahlah, aku bosan bicara padamu.” Tanah berhenti bicara, membisu, dan kaku.
Aku termenung, alam terasa berhenti dari geraknya. Aku diam, tak dapat berkata,berkali-kali aku mencari tujuan pulang, berkali-kali pula tujuanku berubah. Karena sejatinya aku tak mengerti kemanakah arahnya, karena aku tak sadari dimanakah pusaranya. Dan kini aku sadari sepenuhnya, bahwa “tanah”-lah tujuan pulangku seharusnya. []GP





0 comments:
Post a Comment