”Selamat siang pak!”
”Selamat siang”
”Menggali kuburan siapa?”
”Oh ini, ada yang meninggal satu jam yang lalu”
”Di sebelahnya akan digali kuburan juga?”
”Ah, belum tahu lah. Biasanya jika ada yang meninggal pihak keluarga langsung menghubungi. Tapi untuk hari ini, hanya satu orang saja yang meminta untuk menggali”
”Boleh saya bantu bapak menggali di sebelah”
”Untuk siapa? Ada keluargamu yang meninggal?”
”Ah, tidak! Siapa tahu nanti akan ada yang meninggal lagi, toh bapak tak perlu repot untuk menggali kuburan sendirian, ya kan?”
”Ya, boleh lah...kamu ini aneh! Mau saja membantu menggali kuburan. Tapi tak apa lah. Terima kasih sebelumnya nak!”
”Bapak mau mati kapan?”
”Hah? Entahlah, mati itu di tangan Tuhan, ada-ada saja kamu!”
”Aku ingin mati cepat saja?”
”Kenapa?”
”Karena tak mengerti”
”Lho..? Arti itu harus di cari, tapi mati akan datang sendiri”
”Pak, Tuhan mati tidak?”
”Yang mati itu otak kamu!”
”Aku ingin bertemu Dia”
”Yakin Dia mau bertemu denganmu? Ha..ha..ha..”
”Ah ya, aku tunggu Dia memanggilku saja”
”Ya begitu lebih baik, bersiaplah!”
”Apa?”
”Bersiaplah!...”
***
Teruntuk bapak tua penggali kuburan...
Aku berjalan di pelataran sunyi. Sendiri. Tak tahu akan kemana, ikuti saja kaki melangkah. Walau sebenarnya itu sulit, kakiku ini tentunya harus menerima perintah dari otak untuk dapat berjalan, dan otakku harus berpikir kemana aku akan melangkah. Jadi apakah sebenarnya mungkin, membiarkan kaki melangkah dengan tanpa memikirkan apa yang harus kita putuskan?
Tapi sudahlah toh saat ini aku masih tetap berjalan dan lagi-lagi masih tetap sendiri. Aku bingung. Entah apa pula definisi dari ‘bingung’. Aku hanya merasa bahwa aku tak tahu harus bagaimana, tak tahu harus berkata apa, dan tak tahu harus putuskan apa. Intinya ‘aku tak tahu’.
Entah mengapa aku putuskan berjalan ke tempat ini. Tak lazim. Seorang diri berjalan di pemakaman tanpa tak tahu apa yang akan dilakukan, benar-benar gila aku ini. Sayup-sayup kudengar lantunan ayat suci, seorang pemuda berpakaian hitam-hitam dan berpeci tengah membaca Al-Quran di sisi kuburan yang nampaknya masih basah. Orang itu dibayar, tentunya oleh keluarga si empunya pusara, untuk mengirim pahala katanya. Aku tak pernah percaya, orang yang meninggal telah terputus segala amalnya, itu yang kuyakini. Jika ingin banyak pahala kenapa tidak berburu amal ketika napas masih leluasa. Manusia...ada-ada saja!
Aku kembali berjalan, seolah hanya ada aku disana. Tak ada siapapun perhatikan aku. Kuperhatikan satu persatu pusara di hadapku, berbagai nama terpampang pada nisan. Pusara mereka bermacam-macam, ada yang berlapis marmer, ditanami rumput, ataupun hanya gundukan tanah merah saja.
Manusia, hingga matinya saja masih tak mau meninggalkan kesombongan. Menghias tempat pembaringan terakhir, padahal jasadnya akan hancur oleh cacing tanah. Jika nanti aku mati, aku tak mau pusaraku di apa-apakan. Biarkan saja hanya gundukan tanah, dan tandai dengan batu. Tak usah diukir namaku di sana, karena aku ingin menyatu dengan tanah. Di mana awal dan akhirku dari sana. Toh, orang akan mengenang namaku saja. Aku juga ingin dikuburkan di bawah pohon kamboja, agar bunganya jatuh dan menghias tanahku yang kumal. Membasuh setiap legam yang kubawa mati.
Aku hanya dapat berharap untuk waktu yang akan datang, menikmati masa kini dan mempelajari saat yang telah lalu. Bagai tak banyak yang telah kuperbuat. Semua mengasap tak tahu dibawa siapa, dan terus akan begini, hingga akhirnya aku tahu, apa itu yang disebut ’mati’.
Dunia ini tak dapat ku mengerti. Hanya satu aku yang mengerti, yaitu diriku sendiri. Dunia terlalu lelah untuk mengerti, bahwa manusia tak selalu makhluk dewasa dengan akalnya, tapi juga bocah dengan ingusannya mengumbar nafsu, memburu yang tak perlu ditunggu. Otak dijejali sudut pandang siapa. Tak punya pendirian, hanya punya ekor untuk dibuntuti setiap saat.
Picik! Memandang sebelah, padahal tak punya mata. Bersungut-sungut padahal tak bermulut. Seharusnya tak usah menipu diri, karena belati tak di bawa mati. Hidup yang panjang tak usah dibanggakan, karena tak akan berarti jika menabur duri. Lelah membelalak mata, tak jua peluh jatuh dan sirna.
Kau tahu apa itu menderita? Karena tak makan, tak punya teman atau tak dapatkan berlian? Ha..ha..ha..salah besar! Menderita adalah jika kau tak punya hati, untuk berbagi, untuk memberi, atau untuk mengerti. Tak punya hati, mati sajalah! Pergi bersama lalat dan cacing, pergi dengan benci dari seluruh bumi!
Jangan kau seperti itu, jangan menyesali apa yang telah terjadi. Waktumu habis nanti, memikirkan hal tak penting yang takkan dibawa mati. Pikirkan nanti, dimana kau kembali dari perjalanan ini. Kau akan bercerita, di hadapan Tuhan dan malaikatNya, bahwa kau bukan seorang pencuri. Aku telah lakukan banyak hal, agar Tuhan mau mengundang dan bertemu denganku. Bersiap agar bila saatnya tiba tak lagi ada sesal. Semoga...
***
Penggali kuburan itu duduk di bawah pohon kamboja di depan pusara, melepas peluh setelah mengubur, ya..hanya mengubur dan tanpa menggali. Diam dan berpikir, kemarin seorang pemuda membantunya menggali kuburan, dan hari ini seorang tak dikenal meninggal. Jenazah yang tadi ia kuburkan memang tak bernama dan tanpa pengantar dari pihak keluarga. Jenazah hanya diantar oleh pegawai rumah sakit, korban tabrak lari katanya. Setelah beberapa lama tak ada keluarga yang mencari, akhirnya jenazah dikuburkan saja. ”Sayang aku tak sempat melihat wajahnya”, pikir bapak tua. Tak berapa lama, ia teringat sepucuk surat yang ditemukannya di dalam keranda dan mulai membacanya perlahan.
Angin terhenti, senja bersinar nanar. Semburat warnanya tetap hampa. Bapak tua masih duduk di depan pusara. Pusara tanpa nama dengan kamboja di atasnya. Hari telah senja, dan cerita sampai sini adanya. Sepucuk surat yang ditemukan dalam keranda tetap di genggaman, bertulis ’ teruntuk bapak tua penggali kuburan’. Dia bercerita sebelum pergi ke sana, dan akhirnya tahu di mana ’mati’ berada.[]





0 comments:
Post a Comment