10 October 2009

            Seorang ibu terduduk di beranda, menatap hampa pada pagi sunyi yang mati. Teringat pada anaknya yang entah dimana, ia pun melantunkan lagu hati yang ia mainkan dari dasar jiwa yang tak pernah diketahui. Lagu mengalun, menyayat, dan membisukan alam dengan segala geraknya. Sunyi...tak ada yang berani angkat bicara, angin pun tidak!
            ”Anakku tak tahu jalan pulang” katanya parau, matanya sudah pun basah oleh airmata. Kebingungan meraja dari sela-sela keriput wajahnya yang telah pasi. Kematian sejenak diam, kasihan oleh tua yang tak disangga. Tapi sang anak tak kunjung tiba. Mata tetap memandang, kaki tetap berdiri, dan jiwa tetap menanti.
            Ibu tua tetap berharap dengan harapan yang tak tahu dimana kan bertepi. Ia bicara pada angin, agar tetap menuntun jalan anaknya hingga sampai di pangkuan. Namun entahlah, sepertinya tak ada harapan. Ibu tua hanya berdiri, dan akan terus berdiri hingga anaknya kembali.
            Angin berbisik padanya, bahwa sang anak sangat jauh sekali, entah sampai entah tidak. Tapi ia sedang dalam perjalanannya yang payah kemari. Ibu tua tersenyum, menunjukan keteguhan dalam penantian. Ia tak mau beranjak sedikitpun, yakin dan percaya, itu yang ia punya. Hari semakin gelap, anaknya tak kunjung tiba. Alam khawatir, ibu tua tak peduli, dan sang anak entah ada dimana. Tak ada suara, hanya desah napas harap yang menguap dibawa senja.
”Anakku bukan durhaka, hanya tak tahu jalan pulang, andai dapat kuhampiri ia disana, maka akan kubawa ia ke rumah-nya” entah bicara pada siapa, ibu tua tak peduli. Tiba-tiba air mata jatuh, tapi raut wajahnya tak berubah. ”Tuhan...aku takkan menyerah!” kata-katanya begitu kuat, tak ada haru disana.
Berhari-hari ibu tua tak beranjak, ia tak nampak seperti biasa. Tak ada yang dilakukannya kecuali diam. Penantian yang sia-sia, tapi tidak menurutnya. Angin, tanah, mentari dan semesta mencoba menggoyahkan, tapi ia tetap tak bergeming. Keyakinan bahwa anaknya akan datang tak menyurutkan semangatnya.
Sementara di tempat lain, anak dari ibu tua itu kebingungan. Bingung dengan kemana ia harus melangkah. Nun jauh disana sang ibu tengah menunggunya dan ia tahu itu. Di tengah lelah, letih dan hilangnya harapan, sang angin menghampirinya dan berseru ”Ah, akhirnya kutemukan juga kau! Ayo lekas! Ibumu hampir mati menunggumu” anak itu tak bergeming, matanya sudahpun kelelahan untuk sekedar mengerjap. ”Hei! Bangun! Ibumu menunggu!” angin lagi-lagi menyeru.
            ”Aku sudah pun tak kuasa lagi berjalan, katakan pada ibuku aku menyayanginnya” dengan sisa tenaganya anak ibu tua itu mengangkat bicara. ”Tapi kau harus kuat berjalan, ibumu menunggu!” angin mencoba menguatkan si anak agar dia dapat kembali berjalan. ”Aku tak kuasa berjalan, apa yang harus kulakukan?”. Hening, angin berhenti mendesau, mungkin kebingungan dengan apa yang harus dilakukannya.
            Karena tak jua menjawab, angin meninggalkan anak itu seorang diri meluncur dan meliuk menuju sang ibu yang masih saja berdiri. Enggan langkah dalam hati yang tak kuasa menyampaikan berita. ”Ibu tua menyerahlah,..” angin mencoba menggoyahkannya. Ibu tua terdiam, tak berniat  menyerah. ”Ibu tua menyerahlah, anakmu tak akan mungkin sampai padamu, ia dengan lelahnya tak mampu lagi berdiri, mengerjap pun ia tak kuasa, menyerahlah, relakan ia...”. lagi-lagi tak ada jawaban, ia hanya terdiam mengunci mulutnya rapat-rapat, menatap tajam pada siapa yang mengajaknya bicara seolah ingin berkata bahwa tak ada siapa yang dapat menggoyahkannya. ” ibu tua, aku sudah pun tak tahu lagi apa yang harus kulakukan, entah padamu, entah pada anakmu, ia hanya menyatakan bahwa ia menyayangimu. Dan sekarang terserahlah padamu saja, cukup katakan apa yang harus kulakukan pada anakmu aku sudah tak tahu lagi harus bagaimana”. Ibu tua mengangkat kepalanya, menarik napas panjang dan berkata dengan mantap ”berikan nyawaku untuknya!”.[]GP

Medio april 2009
Sebuah persembahan untuk hari lahir ibuku

Tagged:

0 comments:

Post a Comment