Pada siapa lagi aku dapat percaya? Aku tak tahu. Sudahlah, biarkan saja begini adanya. Kau bingung, akupun bingung. Kita terjebak dalam lautan peristiwa yang membuat kita biasa. Ketika tiba saatnya badai datang, kita pun tertunduk tak tahu harus bagaimana. Karena kita memang dilahirkan biasa. Kita takut mentari, kita takut hujan, bahkan kita takut tertawa. Padahal dunia ini tidak mati. Kita datang untuk kemudian pergi. Tapi kita tak menyadari bahwa biasa itu karena diam yang tak akan memberi arti.
***
Menurut berita yang kudengar akhir-akhir ini, dunia telah berubah dari wujudnya yang asli. Semua berubah menjadi parade sandiwara kolosal yang dilakukan oleh seluruh umat manusia di belahan bumi, siapapun dan dalam keadaan apapun tak dapat menghindar dari memainkan lakonannya. Aku tak pernah keluar untuk mengetahuinya karena takut ’terlalu jujur’, walau sebenarnya akupun telah tak tahu lagi bagaimana bentuk kejujuran. Aku tak ingin berbicara dengan siapapun, hidupku hanya di dalam kotak ini dan entah sampai kapan, mungkin sampai ada manusia yang dapat berkata jujur, dengan kejujuran yang aku sendiripun tak tahu ukurannya.
Pagi ini indah sekali, mentari memancarkan sapaan hangatnya, segar dan tentunya tanpa sandiwara. Hanya alam semesta yang tak pernah berdusta dan selalu apa adanya. Derit pagar yang melapuk mengaburkan lamunanku. Seorang penjual koran masuk ke muka halaman dan melemparkan koran tepat di depan pintu rumah. Aku mengambil koran dan melambaikan tangan tanda terima kasih padanya. Mungkin ia melihatku aneh, terkadang tergoda pula untuk sekedar berbincang dengannya, tapi lagi-lagi aku tak mau didustai.
Sang penjual koran pergi menjauh dengan sepeda yang dikayuh, walau aku tak tahu namanya namun aku akan selalu ingat pada setiap pagi yang ia warnai dengan kehadirannya. Empat koran pagi sudah di tangan, aku harus menunggu tiga koran pada pukul sembilan dan dua koran pada pukul sepuluh. Semua berjumlah sembilan koran yang harus kubaca setiap pagi, jika tidak begitu aku akan termakan berita-berita busuk yang lagi-lagi penuh kedustaan. Dengan membaca banyak koran setidaknya tersaring berita mana saja yang memang benar-benar terjadi, karena tak mungkin orang banyak bersepakat untuk berdusta. Tapi itu hanya pikiranku saja, pada kenyataannya aku tak tahu benar tidaknya.
Seperti biasa, semua koran bercerita mengenai kehidupan di luar sana. Tapi lagi-lagi aku tak dapat memastikan kebenarannya. Entah sejak kapan aku berpikir seperti ini, yang pasti akupun tak punya teori pasti untuk memastikan semua. Sejenak aku termenung, merenungi semua yang aku yakini selama ini. ”Manusia memang selalu memakai topeng-topeng untuk tetap dipandang sebagai orang baik”.
Dulu pernah aku merasakan bahwa di dunia ini masih ada orang yang mau berkata jujur. Suatu saat dimana kejujuran tak ditertawakan atau bahkan dilawan untuk dimatikan. Dunia berjalan dengan sempurna, tak ada cacat, tak ada curiga. Namun perlahan-lahan semua berubah
Begini ceritanya, konon dahulu semua manusia hidup damai dan tentunya penuh kejujuran. Tak ada seorang pun manusia yang berani sedikit saja berbohong atau mereka-reka fakta. Lalu tiba-tiba datanglah seorang raksasa besar yang menipu semua manusia agar meminum air ’dusta’. Warnanya jernih, adanya di kaki langit. Manusia diiming-imingi akan kaya, akan cantik, akan awet muda, bahkan akan bisa menguasai dunia. Semua orang berbondong-bondong menuju mata air tersebut. Meminumnya tak henti-henti, membawanya pulang untuk keluarga dan kerabat dekat agar semua dapat merasakan manfaatnya. Betul saja, yang mengharap cantik menjadi lebih cantik, yang mengharap kaya menjadi lebih kaya, dan yang mengharap mendapat kuasa menjadi semakin berjaya
Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, hal tersebut bertahan. Namun, hal tersebut sejalan dengan kejujuran yang semakin menghilang. Mula-mula hanya kebohongan kecil, tapi lama kelamaan menjadi kebohongan besar yang bahkan dapat mencelakakan orang lain. Manusia pun tak mengerti apa yang terjadi, tak ada yang dapat menjelaskan semua ini.
Sang raksasa tertawa keras? Sekeras-kerasnya hingga semua manusia keluar melihat betapa raksasa tersebut buruk rupa, ia tak punya telinga hanya ada mulut saja di wajahnya. Semua manusia dibuat merinding melihatnya. Tertawanya keras sekali, hingga semua ingin menutup telinga. Tapi alangkah kagetnya mereka, ketika mendapati bahwa telinga mereka seketika menghilang. Tapi suara raksasa itu tetap terdengar, lalu ia berkata ”Sekarang kalian hanya dapat mendengar suaraku, suara kedustaan. Jangan harap kalian akan mendapat kejujuran kembali. Semua lenyap, kecuali jika kalian tak pernah meminum air dusta di kaki langit. Ha...ha..ha..”.
Semua manusia kebingungan, tak tahu harus merasa bagaimana. Mereka tak mau seperti ini, ada nurani yang menolak mereka melakukan ini. Tapi setelah beberapa saat mereka pun terbiasa, terbiasa dengan kebohongan. Hingga jika ada yang berkata jujur, mereka akan memperlakukan sebagaimana ada yang berkata sebaliknya. Setelah kejadian tersebut, pengadilan dihapuskan di seluruh dunia. Karena akan sulit menimbang sebuah kasus benar atau tidak adanya, atau jujur tidaknya seorang saksi. Intinya, dunia hampir berada di ambang kehancuran tak ada pengaturan, tak ada hukum, tak ada sanksi, tak ada lagi yang dapat dipercaya.
Semakin lama manusia tak lagi mempercayai pada masing-masing rekannya, menuding saudara dan keluarga sendiri, menjatuhkan pemimpin karena dituduh meingkari janji. Semakin kacau dan semakin runyam saja ceritanya. Tak ada lagi kata percaya, kata itu dibawa serta oleh si raksasa buruk rupa yang tak bertelinga tadi. Setelah itu raksasa pergi entah kemana bahkan telaga air ’dusta’ pun menghilang dibawanya.
Terkadang rasa nelangsa yang hebat melanda, tak ada yang dapat kulakukan selain menikmati sendiriku. Aku tak mampu lagi menjalani hidup yang tak dapat kumengerti ini, semua hanya bagaikan mengejar satu tujuan atas dasar kepentingan. Lelah juga memang memperhatikan dunia ini, tapi apa mau dikata beginilah adanya. Alhasil aku ini yang mengklaim diri jujur harus mengurung diri, karena takut begitu jujur menghadapi dunia ini.
Tapi terkadang kondisi ini membuatku ingin tertawa. Pernah satu waktu aku memperhatikan dua orang tengah bercerita di depan rumahku. Entah sengaja entah tidak mereka lama berdiri dan kemudian bercerita. Seorang rekannya menceritakan mengenai musibah yang dialami keluarganya, rekannya yang satu lagi menyimaknya dengan tanpa berkomentar. Namun yang mengejutkan adalah ketika orang itu selesai menceritakan ceritanya, rekan yang mendengarkan ceritanya mengernyitkan dahi lalu berkata ”Ini cerita yang sebenarnya atau sebaliknya?”. Keduanya saling berpandangan, bingung, dan kemudian kembali berjalan. Setelah itu aku tak tahu lagi bagaimana.
Selama ini aku tinggal sendiri, semua orang yang kukasihi pergi satu persatu entah mencari kejujuran yang hilang atau termakan bujuk rayu sang raksasa.
Begitulah kira-kira ceritanya, percaya tidak? Mungkin sebuah kepercayaan juga harus dibayar mahal saat ini. Tapi tentu saja jangan percaya dengan semua ini, karena hingga saat ini, aku masih tak dapat percaya dan menerima bahwa aku pun tak punya telinga.[]GP





0 comments:
Post a Comment