10 October 2009


                Pagi ini begitu cerah, burung-burung terbang beriringan berkejar-kejaran, bercanda dengan cuit-cuit manja. Mereka terbang dari satu atap ke atap lain, mengucapkan selamat pagi pada seluruh penghuni bumi. Burung-burung menebarkan semangat, semangat diterbangkan angin, angin meliuk-liuk menyapa tanah, tanah menggeliat dan tertawa, tawanya membahana hingga ke langit, kemudian langit mengerling manja pada mentari, mentari tertawa dan menari menebar sinarnya kesana dan kesini. Hangat mentari menyiram bumi, dan aku yang berpjak di atasnya menikmati hangatnya tanpa henti. Oh…terima kasih Tuhan untuk setiap episode pagi yang begitu indah ini.
                Aku pun tak lepas dari semangat itu, begitu meluap dan membuncah, bahkan meluber kemana-mana, hingga semua hal begitu semangat aku jalani. Pagi ini ibuku memberi aku sarapan nasi goreng dengan taburan kering tempe spesial dan udang goreng renyah di atasnya. Sebelumnya ku tengok bagaimana beliau memasaknya. Aduhai…begitu semangat memancar dari caranya meramu bumbu-bumbu, memotong-motong, menggoreng, menumis, mengaduk…oh…harmoni yang indah sekali. Semangat bagai kerlap-kerlip yang bersinar-sinar. Dan kini aku memegang sepiring nasi goreng yang dimasak dengan semangat kerlap-kerlip itu.
                Aku memakannya sedikit demi sedikit, dimulai dari tepi piring, karena tidak ingin merusak kering  tempe spesial dan udang goreng renyah yang dibuat sebagai garnish itu. Ajaib! Seketika semangat ibuku ketika memasaknya menular padaku yang tengah termenung di depan layar monitor. Maka aku pun menulis dan merangkai kata-kata, jari jemariku menari, melompat-lompat dari satu kata ke kata yang lain, tak terputus terus bersahutan. Tak ada jeda sedikitpun, terus mengalir, ide-ide berhamburan, oh…indahnya pagi ini. Tulisan belum rampung aku beranjak karena mendengar suara Naura, adik kecil tetangga sebelah yang amat lucu. Setiap pagi ia berjalan bersama bundanya, menyapa semua orang yang ditemuinya dengan tawa, dan dia pun membagi ceria di pagi ini. Aku melongokkan kepala dari jendela, “Naura…Naura…Neng…” panggilku padany. Ah…dia tersenyum padaku, senyum terindah di seluruh dunia.
                Ibuku keluar menghampiri Naura pula, ingin meminta sejumput senyum dari ujung-ujung bibirnya, agar ceria sisa harinya. Oh…ia mendapatkannya pula, Naura kembali tersenyum dan pagi pun semakin semarak. Di tengah senyum-senyum yang berwarna-warni itu datanglah tukang tiang bendera, memanggul empat buah tiang untuk mengikat tali-tali bendera pada perayaan tujuh belasan nanti. Dia pun tak lepas dari semangat, senyumnya mengembang ketika menawarkan tiang bendera, jalannya mantap, empat tiang bendera di pikulannya serasa ringan sekali nampaknya. Ah…dia pun tersenyum, menawarkan dengan tulus pada kami, siapa tahu berkenan membeli. Aku suka caranya menawarkan, dia seorang tukang tiang bendera yang tulus dan bersemangat, dia tak peduli apakah tiangnya akan terjual atau tidak, dia hanya berjalan dengan semangat, menawarkan sambil tersenyum. Adapun jika orang yang ditawarkannya menolak, maka ia pun berlalu dengan tak lepas senyum dari bibirnya.
                Semangatnya menular pada kami, dan pagi ini rizki menyapanya dengan ramah, seramah ia menyapa kami. Bapakku yang tengah pulang dari olahraga paginya memanggil tukang tiang bendera untuk membeli satu tiang bendera. Ah…alangkah senangnya tukang tiang bendera itu, hingga ia menurunkan harga jualnya. Ia pun membuka ikatan tali tiang-tiang bendera, dengan tetap semangat tentunya. Bapakku melihat semangat dan keikhlasannya, maka ia pun ingin melakukan semangat dan keikhlasan pada yang lain. Bapak tak hanya membeli satu tiang bendera tapi dua! Untuk diberikan pada tetangga kami di sebelah rumah. Tetangga kami yang telah berkontribusi dalam membuat pagi ini semakin ceria karena ia adalah ibu dari Naura, yang sedari tadi menebarkan senyum-senyum manis pada setiap yang ditemuinya. Lalu datanglah tetangga kami satu lagi karena melihat kami begitu bersemangat dia pun menghampiri. Bertanya ini dan itu menjawab ini dan itu. Lalu pandangannya jatuh pada tiang bendera yang sedang kami perbincangkan, ia pun tak ingin ketinggalan membagi kebahagiaan pada tukang tiang bendera. Dibelinya satu lagi untuk memasang ikatan-ikatan bendera di rumahnya.
                Ah…indah sekali pagi ini, alam raya bersemangat dengan tariannya, ibuku bersemangat dengan nasi gorengnya, aku bersemangat dengan tulisanku, Naura bersemangat menebar senyum termanisnya, Bapakku semangat membagi bahagia dan keikhlasan, Tukang tiang bendera semangat memikul tiangnya demi menghidupi anak istri tentunya, tetangga-tetanggaku pun tertular semangat yang semakin melebar efeknya ini. Semuanya menjadi semangat…pagi yang semangat…tak ada alasan untuk diam ataupun mengeluh…dan kami bersyukur atas pagi yang semangat ini Tuhan… []GP120809

Tagged:

1 comment: