“Kau kemana saja?”
“Aku ada di sini, seperti biasa menunggumu mendatangiku agar kita dapat menunggu pagi”
“Kemarin kau tidak datang, kau tak seperti yang kukira!”
“Ayolah… ini tak seperti yang kau bayangkan, kau harus terbiasa dengan ini. Tentunya aku tak akan selalu dapat menemanimu”
“mengapa?”
“Karena aku hanya menemanimu sesaat”
Aku tak mengerti. Aku diam mendengar kata-katanya. Aku tak suka ini. Tidak jelas. Aku harus memutar otak untuk mengerti perkataannya. Nihil. Aku tetap tak mengerti.
“Mengapa kau diam?”
“Karena aku tak suka kau berkata begitu”
“Kalau begitu pergilah!”
“Apa?”
“Ya, pergilah! Jika kau sudah menjadi “aku” maka pergilah! Tak ada gunanya aku bicara denganmu!”
Sepertinya dia bukan dari dunia nyata. Ya tentu saja, karena aku tengah bermimpi. Aku diam, lagi-lagi tak mengerti.
“Apa yang kau inginkan?” Aku bertanya padanya
“Tak ada”
“Tidak mungkin!”
“Mungkin saja, baiklah aku hanya ingin menunggu pagi”
“untuk apa?”
“agar aku dapat terbangun”
“ itu hal yang biasa terjadi, katakan yang lain!”
“Aku hanya ingin itu”
Kali ini dia tertunduk. Mendalam, dan menangis. Lagi-lagi aku tak mengerti.
“Pagi itu menyenangkan. Dia segar dan alami. Aku ingin kembali padanya, memeluknya erat dan tak lagi menyia-nyiakannya. Pagi adalah semangat dan keindahan yang tak direka-reka”
Dia menarik napas panjang. Menghirupnya lekat-lekat dan kembali pandangannya menerawang.
“Setiap orang pasti akan menemui pagi, ini tidak istimewa!”
“Kau akan tahu bagaimana sakitnya ditinggal pagi, jika kau rasakan itu jangan datang padaku lagi!”
Aku terhenyak, mengucek-ngucek mata dan menarik napas berat. Kepalaku pening serasa baru saja naik komedi putar di pasar malam. Aku tatap jam di dinding, pukul sebelas lebih lima belas. Prestasi bagiku, biasanya aku baru bangun pukul dua belas. Ini hal yang wajar, aku tak tidur semalaman. Apa yang kukerjakan? Tak ada, paling-paling hanya menonton, mengobrol ataupun melakukan hal-hal yang tidak jelas. Tak jelas seperti melamun, membongkar radioku yang sebenarnya tidak rusak –dan akhirnya tak dapat kupasang kembali-,atau terkadang hanya mondar-mandir tak karuan.
Aku berjalan gontai menghampiri sebuah meja di sudut kamar. Kakinya sudah rapuh dimakan rayap, kutendang sedikit saja pasti patah. Diatasnya hanya ada sebuah termos, bungkus-bungkus kopi sachet, dan tumpahan air disana-sini. Masih ada kopi sisa semalam dalam gelasku. Aku reguk. Dingin dan rasanya aneh, sudak tidak terasa seperti kopi. Seperti agak asam-nampak bukan kopinya tapi mulutku saja yang masih penuh iler-
Tiba-tiba aku termenung memikirkan mimpi tadi, lebih tepatnya tadi pagi. Baru kusadari bahwa aku memang tak pernah nikmati pagi, waktu itu selalu kugunakan untuk bermimpi. Terakhir aku bangun pagi ketika..,bahkan aku lupa kapan aku bangun pagi. Mungkin besok, ya besok aku akan bangun pagi! Semoga.
*
“Kau sudah menemui pagi?” ‘dia’ dalam mimpiku kembali menghampiri
“Belum” jawabku
“Kau masih tak percaya padaku?”
“Aku sempat memikirkannya, aku akan melakukannya pagi ini”
“Lakukanlah sebelum terlambat”
“Apa maksudmu?”
“Pagi akan sulit kau temui jika sekali saja kau pergi”
“Aku tak percaya”
“Lihatlah dirimu, kapan kau terakhir bertemu pagi?”
Lagi-lagi aku diam. Menunduk. Benar, jujur saja akupun telah lupa kapan terakhir aku menemui pagi.
“Kalau begitu tunjukan padaku sekarang bagaimana pagi itu!”
“Berjalanlah, kau akan menemuinya di ujung sana. Berjalanlah terus!”
Aku mengikuti kata-katanya, berjalan perlahan. Tak ada suara. Tak ada warna. Tiba-tiba aku melihat sungai biru membentang di hadapan. Beralas pasir pantai dengan dangkal yang menerawang. Aku berjalan hati-hati, agar tak goyahkan airnya yang bisu.
Di hadapan kulihat padang luas, tanpa rumput tanpa tanah, hanya bagai ruang di bawah langit. Apakah ini pagi? Kali ini semua penuh cahaya dan warna. Benar-benar mengagumkan. Aku berteriak dan berjingkrak. Aku bahagia, dan tak pernah merasakan ini sebelumnya. Jika aku tahu seperti ini, setiap hari aku akan bangun pagi.
Aku tak dapat berkata-kata, aku bahagia. Aku tahu ini mimpi. Tapi tak mengapa, asal aku dapat bahagia walau sesaatpun tak apa.
Namun, tiba-tiba semua lenyap. Kembali gelap, tak ada suara, tak ada warna. Aku bingung. Aku mencari namun tak jua kutemui. Aku diam, aku ingin bangun dari mimpi ini. Bagaimana caranya, selama ini aku tiba-tiba saja terbangun dan ada dalam hidupku sendiri. Kali ini, aku benar-bernar tak tahu harus berbuat apa.
“Hei kau yang tadi bicara padaku, kemarilah! Aku ingin bangun dari mimpi ini”
Tak ada suara, hanya ada suaraku yang menggema-gema. Aku mulai takut. Menggigil. Aku terjatuh, setelah sekian lama berlari mencari ujung dari mimpi ini. Tak ada jawaban. Aku menangis. Aku ingin pulang …[]GP
Negeri Tandus, 04 Juli 2007





0 comments:
Post a Comment